Rabu, 30 Juni 2010

narnia bag.4

TENTU saja itu suara sang singa. Kedua
anak itu telah lama yakin dia bisa bicara,
tapi tetap saja menjadi kejutan yang indah
dan hebat ketika dia melakukannya.
Keluar dari pepohonan, orang-orang liar berjalan
maju, begitu juga para dewa dan dewi
hutan. Bersama mereka datang juga faun, satyr
(=manusia bertanduk, bertelinga, berbuntut, dan
berkaki seperti kambing), dan dwarf. Dari sungai
muncul keluar dewa sungai bersama putriputri
naiad-nya. Lalu semua makhluk itu, para
hewan, juga burung dengan suara masingmasing
yang beragam, rendah, tinggi, tebal,
atau jelas, menjawab:
"Hormat pada Aslan. Kami dengar dan patuh.
Kami bangkit. Kami mencintai. Kami berpikir.
Kami bicara. Kami tahu."
Lelucon Pertama
dan Hal-hal Lain
BAB 10
174
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com
"Tapi maaf, kami belum tahu terlalu banyak,"
kata suara yang agak nyaring dan
penuh dengusan. Dan ini benar-benar membuat
kedua anak itu melompat saking terkejutnya,
ternyata kuda kereta sewaan itulah yang
bicara.
"Strawberry memang hebat," kata Polly.
"Aku sungguh lega dia menjadi salah satu
hewan yang dipilih menjadi Hewan yang Bisa
Berbicara." Dan si kusir kereta, yang kini
berdiri di samping kedua anak itu, berkata,
"Ini mustahil. Tapi aku memang selalu bilang
kuda itu punya akal panjang."
"Para makhluk, aku memberi kalian diri
kalian," kata suara Aslan yang kuat dan gembira.
"Aku memberi kalian selamanya tanah
Narnia ini. Aku memberi kalian hutan, buahbuahan,
sungai. Aku memberi kalian bintangbintang
dan aku memberi kalian diriku sendiri.
Para hewan bodoh yang tidak kupilih juga
milik kalian. Perlakukan mereka dengan lembut
dan hargai mereka, tapi janganlah berbalik
mengikuti mereka karena dengan begitu kalian
tidak lagi akan menjadi Hewan yang Bisa
Berbicara. Karena kalian telah dikeluarkan dari
kaum mereka, kalian akan bisa kembali menjadi
bagian mereka. Hindari itu."
175
"Tidak, Aslan, kami tidak akan kembali,
tidak akan," kata semua orang. Tapi burung
Jackdaw yang bersemangat menambahkan dengan
suara keras, "Jangan khawatir!" sedangkan
semua makhluk sudah selesai berkata-kata
tepat sebelum dia mengucapkan ini. Kata-katanya
pun terdengar sangat jelas dalam keheningan,
dan mungkin kau pernah mendapati
betapa memalukannya kejadian ini—misalnya
saja, di suatu pesta. Jackdaw itu menjadi begitu
malu sehingga dia menyembunyikan kepala di
bawah sayap-sayapnya seolah hendak pergi
tidur. Dan semua hewan lain mulai mengeluarkan
berbagai suara aneh yang adalah cara
tertawa masing-masing. Suara-suara yang tentu
saja belum pernah terdengar di dunia kita.
Awalnya mereka berusaha menahannya, tapi
kemudian Aslan berkata:
"Tertawalah dan jangan cemas, para makhluk.
Kini kalian tidak lagi bodoh dan tanpa pikiran,
kalian tidak perlu selalu bersedih. Karena
lelucon, seperti juga keadilan, datang bersama
kata-kata."
Jadi mereka semua tidak lagi menahan diri.
Dan suasana menjadi begitu ceria sehingga
Jackdaw itu sendiri mengumpulkan kembali
keberaniannya dan bertengger pada kepala kuda
176
kereta sewaan, di antara kedua telinganya,
mengepak-ngepakkan sayap, lalu berkata:
"Aslan! Aslan! Apakah aku telah menciptakan
lelucon pertama? Apakah semua makhluk
akan diberitahu akulah yang membuat lelucon
pertama itu?"
"Tidak, teman kecilku," kata sang singa.
"Kau belumlah menciptakan lelucon pertama,
kau hanya menjadi lelucon pertama." Kemudian
semua makhluk tertawa lebih keras, tapi
Jackdaw tidaklah keberatan dan ikut tertawa
sama kerasnya hingga si kuda menggoyangkan
kepala. Jackdaw pun kehilangan keseimbangan
177
dan terjatuh. Tapi kemudian dia teringat pada
sayapnya (sayap-sayap ini memang masih baru
baginya) sebelum dia mencapai tanah.
"Dan sekarang," kata Aslan, "Narnia telah
didirikan. Selanjutnya kita harus memikirkan
cara menjaganya. Aku akan memanggil sebagian
dari kalian untuk rapat bersamaku.
Mendekatlah kepadaku, kau pemimpin bangsa
Dwarf, kau Dewa Sungai, kau Roh Pohon Ek,
dan Burung Hantu jantan, juga kedua gagak
hitam, dan gajah jantan. Kita harus berjalan
bersama. Karena walaupun dunia ini baru berusia
lima jam, kejahatan telah memasukinya."
178
Para makhluk yang dia sebut namanya maju
dan dia melangkah ke timur bersama mereka.
Makhluk-makhluk yang lain mulai berbicara,
mengucapkan kata-kata seperti, "Apa yang
katanya telah memasuki dunia kita?—kebahatan—
Apa itu kebahatan?—Bukan, dia tidak
bilang kebahatan, dia bilang kegahatan—Tapi
apa itu?"
"Begini," kata Digory kepada Polly. "Aku
harus mengejarnya—Aslan, maksudku, sang
singa. Aku harus bicara padanya."
"Menurutmu kita bisa melakukan itu?" tanya
Polly. "Aku tidak akan berani."
"Aku harus melakukannya," kata Digory.
"Ini berhubungan dengan ibuku. Kalau ada
seseorang yang bisa memberiku sesuatu yang
bisa menyembuhkan ibuku, dialah orangnya."
"Aku akan menemanimu," kata si kusir kereta.
"Aku menyukai tampangnya. Lagi pula
kurasa hewan-hewan lain ini tidak akan mau
pergi demi kita. Aku juga mau berbicara dengan
Strawberry."
Jadi ketiga orang itu melangkah penuh keberanian—
setidaknya dengan sebanyak mungkin
keberanian yang bisa mereka kumpulkan—menuju
rapat para makhluk Narnia. Para makhluk
itu sibuk bercakap dan berkenalan sehingga
179
tidak memerhatikan kehadiran tiga manusia
sampai mereka berada sangat dekat. Para
makhluk itu juga tidak mendengar Paman
Andrew, yang berdiri gemetaran dengan sepatu
berkancingnya cukup jauh dari sana, berteriak
(tentu saja dengan suaranya yang sekeras mungkin):
"Digory! Kembali! Cepat patuhi perintahku
dan kembali ke sini! Aku melarangmu melangkah
lebih jauh lagi."
Ketika akhirnya mereka tepat berada di
antara hewan-hewan itu, para hewan berhenti
bicara dan menatap mereka.
"Wah?" kata Berang-berang jantan akhirnya.
"Demi nama Aslan, makhluk apa ini?"
"Aku mohon," kata Digory memulai dengan
suara yang agak tertahan, ketika Kelinci berkata,
"Menurutku, mereka sejenis selada besar."
"Bukan, kami bukan selada, sungguh," kata
Polly cepat-cepat. "Kami sama sekali tidak
enak dimakan."
"Wow!" kata Tikus Tanah. "Mereka bisa
bicara. Siapa yang pernah dengar selada yang
bisa bicara?"
"Mungkin mereka lelucon kedua," usul
Jackdaw.
Macan Kumbang, yang sedang mencuci
180
muka, berhenti sesaat untuk berkata, "Yah,
kalaupun itu memang benar, mereka tidaklah
selucu lelucon yang pertama. Setidaknya, aku
tidak melihat ada yang lucu pada diri mereka."
Macan Kumbang itu menguap dan meneruskan
cuci mukanya.
"Oh, aku mohon," kata Digory. "Aku sedang
terburu-buru. Aku ingin bertemu sang
singa."
Sepanjang waktu Digory berkata-kata, si kusir
kereta berusaha menangkap pandangan
Strawberry. Sekarang dia berhasil. "Nah, Strawberry,
teman lama," dia berkata. "Kau kenal
aku, kan? Kau tidak akan berdiri di sana dan
berkata kau tidak mengenaliku, kan?"
"Apa yang makhluk itu bicarakan, Kuda?"
kata beberapa suara.
"Yah," kata Strawberry sangat perlahan.
"Aku juga tidak terlalu mengerti. Karena menurutku
sebagian besar dari kita belum tahu
banyak. Tapi aku punya semacam bayangan
aku pernah melihat makhluk seperti ini sebelumnya.
Aku punya perasaan aku pernah
tinggal di tempat lain—atau sebagai sesuatu
yang lain—sebelum Aslan membangunkan kita
semua beberapa menit lalu. Semuanya sangat
membingungkan. Seperti mimpi. Tapi ada be-
181
berapa makhluk lain seperti tiga makhluk ini
dalam mimpi itu."
"Apa?" apa si kusir kereta. "Kau tidak
mengenaliku? Aku yang biasa membawakan
pakan hangat di sore hari ketika kau kelelahan?
Aku yang selalu menggosokmu dengan layak?
Aku yang tidak pernah lupa menyelimutimu
kala kau berdiri di tengah cuaca dingin? Aku
tidak menyangka kau bisa begitu tega, Strawberry."
"Ingatanku akhirnya mulai kembali," kata
Kuda mengingat-ingat. "Ya. Tunggu sebentar,
biarkan aku mengingatnya. Ya, kau selalu
mengikat benda hitam mengerikan di belakangku
lalu memukulku supaya aku berlari, dan
betapapun jauhnya aku berlari, benda hitam
itu akan selalu mengikuti di belakangku dengan
suara berisik."
"Kita kan harus bekerja agar bisa terus
hidup," kata si kusir. "Pekerjaanku sama beratnya
dengan pekerjaanmu. Dan kalau tidak ada
kerja dan cambukan, tidak akan ada istal,
jerami, pakan, dan gandum. Karena kau selalu
mendapat jatah gandum setiap kali aku mampu
membelinya, kau harus mengakui itu."
"Gandum?" tanya Kuda, telinganya berdiri.
"Ya, aku ingat sedikit tentang itu. Ya, aku
182
ingat lebih banyak sekarang. Kau selalu duduk
di suatu tempat tinggi di belakang, dan akulah
yang selalu berlari di depan, menarikmu dan
benda hitam itu. Aku tahu aku yang melakukan
semua pekerjaan."
"Di musim panas, memang berat pekerjaanmu,"
kata si kusir. "Bekerja dalam udara panas
untukmu dan tempat duduk sejuk untukku.
Tapi bagaimana dengan musim dingin, teman
lama, ketika kau menjaga tubuhmu tetap hangat
dan aku duduk di kursi kusir dengan
kakiku terasa seperti es, hidungku terus-menerus
seperti dicubit angin dingin, dan tanganku mati
rasa sehingga aku nyaris tidak bisa memegang
tali kendali?"
"Negeri itu keras dan kejam," kata Strawberry.
"Tidak ada rumput. Semua batu keras."
"Benar sekali, sobat, benar sekali!" kata si
kusir. "Dunia itu memang dunia yang keras.
Aku selalu berkata batu-batu jalanan itu tidak
adil bagi para kuda. London memang begitu.
Seperti dirimu, aku juga tidak terlalu menyukainya.
Kau kuda desa, dan aku orang desa.
Dulu aku biasa bernyanyi dalam kor, ya
sungguh, waktu di kampung halaman. Tapi
tidak ada penghasilan bagiku di sana."
"Oh, ayolah, aku mohon," kata Digory.
183
"Bisakah kita lanjutkan perjalanan? Sang singa
semakin menjauh saja. Dan aku amat sangat
ingin bicara dengannya."
"Begini, Strawberry," kata si kusir. "Ada
sesuatu yang ingin dibicarakan tuan muda ini
dengan sang singa, dia yang kaupanggil Aslan
itu. Mungkinkah kau membiarkannya mengendaraimu
(yang kurasa akan dilakukannya dengan
lembut) dan bawa dia ke sana, ke tempat
sang singa berada? Aku dan gadis kecil ini
akan mengikuti di belakang."
"Mengendaraiku?" tanya Strawberry. "Oh,
aku ingat sekarang. Itu berarti membiarkannya
duduk di punggungku. Aku ingat dulu sekali
ada makhluk kecil seperti kalian yang berkaki
dua yang biasa melakukan itu. Dia biasa punya
bongkahan kecil, keras, dan berwarna putih
yang akan diberikannya padaku. Rasanya—oh,
lezat sekali, lebih manis daripada rumput."
"Ah, benda itu pasti gula," kata si kusir.
"Aku mohon, Strawberry," Digory memohon,
"kumohon, biarkan aku naik dan bawalah
aku ke Aslan."
"Yah, aku sih tidak keberatan," kata Kuda.
"Bisa dibilang tidak sama sekali. Ayo naik."
"Strawberry kau memang teman lama," kata
si kusir. "Ayo, Nak, aku akan membantumu."
184
Tak lama kemudian Digory telah berada di
punggung Strawberry dan merasa cukup nyaman,
karena dia sudah pernah mengendarai
kuda tanpa pelana sebelumnya dengan kuda
poninya.
"Sekarang, bisakah kita cepat-cepat, Strawberry?"
tanyanya.
"Apakah ada kemungkinan kau kebetulan
membawa benda putih yang lezat itu?" tanya
Kuda.
"Tidak. Sayangnya tidak," jawab Digory.
"Yah, mau bagaimana lagi?" kata Strawberry
dan berangkatlah mereka.
Pada saat itu, bulldog besar yang sejak tadi
mengendus dan menatap sangat tajam, berkata:
"Lihat! Ternyata ada satu lagi makhluk aneh
ini—di sana, di samping sungai, di bawah
pepohonan."
Kemudian semua hewan menoleh dan melihat
Paman Andrew, berdiri bergeming di antara
sesemakan rhododendron dan berharap kehadirannya
tidak akan diketahui.
"Ayo!" kata beberapa suara. "Ayo kita ke
sana dan melihatnya." Jadi, sementara Strawberry
berlari cepat bersama Digory ke arah
lain (Polly dan si kusir kereta mengikuti mereka
dengan berjalan kaki) sebagian besar makhluk
185
bergegas menghampiri Paman Andrew dengan
auman, gonggongan, geraman, dan berbagai
suara ceria penuh minat.
Kita harus mundur sedikit dan menjelaskan
bagaimana seluruh kejadian ini tampak dari
sudut pandang Paman Andrew. Paman Andrew
sama sekali mengalami kesan yang berbeda
dengan kesan yang dirasakan si kusir kereta,
Digory, juga Polly. Karena apa yang kaulihat
dan dengar amat sangat bergantung pada di
mana posisimu, juga tergantung pada orang
yang bagaimanakah dirimu.
Sejak hewan-hewan itu pertama kali muncul,
Paman Andrew kian mengerut dan masuk ke
sesemakan. Dia mengawasi mereka lekat-lekat
tentu saja, tapi dia tidak terlalu tertarik melihat
apa yang sedang mereka lakukan, lebih untuk
melihat apakah mereka akan menyerangnya.
Seperti sang penyihir, Paman Andrew luar biasa
praktis. Dia bahkan tidak menyadari Aslan
memilih satu pasang dari setiap jenis hewan.
Yang dia lihat hanyalah, atau setidaknya yang
dia pikir dia lihat, ada banyak hewan liar
berbahaya yang berkeliaran. Dan dia terus
bertanya-tanya kenapa hewan-hewan yang lain
tidak melarikan diri dari singa besar itu.
Ketika momen besar tiba dan para makhluk
186
berbicara, dia kehilangan keseluruhan inti penting,
karena alasan yang agak menarik. Ketika
sang singa pertama kali mulai bernyanyi, dulu
sekali ketika negeri ini masih sangat gelap, dia
telah menyadari suara itu sebuah lagu. Dan
dia amat tidak menyukai lagu itu. Lagu itu
membuatnya memikirkan dan merasakan halhal
yang tidak ingin dia pikir dan rasakan.
Kemudian ketika matahari terbit dan dia melihat
sang singalah penyanyinya ("hanya singa,"
seperti katanya pada dirinya sendiri), dia berusaha
keras percaya suara itu bukan nyanyian
dan memang tidak pernah jadi nyanyian—
hanya auman seperti yang akan dikeluarkan
singa mana pun di kebun bintang dunia kita.
Tentu saja tidak mungkin itu nyanyian, pikirnya,
aku pasti hanya mengkhayalkannya. Aku
membiarkan saraf-sarafku tidak terkendali.
Siapa yang pernah mendengar singa menyanyi?
Dan semakin panjang juga indah sang singa
bernyanyi, semakin keras Paman Andrew berusaha
membuat dirinya percaya dia tidak bisa
mendengar apa pun kecuali auman. Sekarang
masalah dalam berusaha membuat dirimu lebih
bodoh daripada keadaanmu sebenarnya adalah
sering kali kau akan berhasil. Paman Andrew
pun begitu. Tidak lama kemudian dia tidak
187
mendengar apa pun kecuali auman dalam lagu
Aslan. Selanjutnya dia juga tidak bisa mendengar
suara lain walaupun dia menginginkannya.
Dan ketika akhirnya sang singa berbicara
dan berkata, "Narnia, bangkitlah," dia tidak
mendengar kata-kata apa pun: dia hanya mendengar
geraman. Dan ketika para hewan yang
lain berbicara untuk menjawab, dia hanya mendengar
gonggongan, geraman, lenguhan, dan
lolongan. Dan ketika mereka tertawa—yah,
bisa kaubayangkan. Itu momen terburuk bagi
Paman Andrew dibandingkan semua kejadian
yang sudah lewat. Begitu banyak hewan buas
yang lapar dan marah mengeluarkan suara
haus darah yang paling mengerikan yang pernah
dia dengar sepanjang hidupnya. Kemudian
perasaan marah dan ketakutannya makin terguncang
ketika dia melihat tiga manusia lain
berjalan menuju dataran terbuka untuk menemui
hewan-hewan itu.
"Dasar orang-orang bodoh!" katanya pada
dirinya sendiri. "Sekarang hewan-hewan buas
itu akan memakan cincin-cincin ketika mereka
menyantap kedua anak itu, dan aku tidak
akan pernah bisa pulang lagi. Digory benarbenar
anak yang egois! Dan dua orang yang
lain juga sama buruknya. Kalau mereka mau
188
membuang nyawa, itu urusan mereka. Tapi
bagaimana denganku? Mereka sepertinya tidak
memikirkan itu. Tidak ada yang memikirkanku."
Akhirnya, ketika kerumunan hewan datang
menghampirinya, dia berbalik dan berlari menyelamatkan
diri. Dan kini semua orang bisa
melihat bahwa udara di dunia muda itu memang
sungguh-sungguh berakibat baik bagi si
pria tua. Di London dia telah menjadi terlalu
renta untuk berlari. Kini, dia berlari dengan
kecepatan yang sudah pasti akan membuatnya
memenangi perlombaan lari seratus meter di
semua sekolah di Inggris. Jas berbuntutnya
yang berkibar di belakang menjadi pemandangan
bagus. Tapi tentu saja tidak ada gunanya
berlari. Banyak hewan di belakangnya
yang merupakan pelari hebat. Ini lari pertama
dalam hidup mereka dan semua tak sabar
menggunakan otot-otot mereka. "Kejar dia!
Kejar dia!" mereka berteriak. "Mungkin dialah
kebahatan itu! Ayo cepat! Kejar! Halangi dia!
Kepung dia! Jangan sampai ketinggalan! Hore!"
Dalam beberapa menit beberapa hewan itu
sudah mendahului Paman Andrew. Mereka
membentuk barisan dan menghalangi jalannya.
Yang lain mendesaknya dari belakang. Ke arah
189
mana pun dia melihat teror. Rusa gunung
dengan tanduk-tanduk besar dan wajah besar
gajah membentenginya. Beruang-beruang dan
babi hutan-babi hutan yang gemuk dan serius
menggeram di belakangnya.
Macan tutul dan macan kumbang yang berpenampilan
dingin dan berwajah menyindir (seperti
dalam bayangannya) menatapnya dan
mengayunkan ekor-ekor mereka. Yang paling
menggetarkan baginya adalah banyaknya jumlah
mulut yang terbuka. Para hewan sebenarnya
membuka mulut karena terengah-engah, tapi
Paman Andrew berpikir mereka membuka mulut
untuk memakannya.
190
Paman Andrew berdiri gemetaran sambil melemparkan
pandangan ke sekelilingnya. Dia tidak
pernah membunuh hewan ketika berada
dalam keadaan menguntungkan, karena biasanya
dia agak takut pada mereka, dan tentu
saja bertahun-tahun melakukan percobaan kejam
dengan hewan membuatnya semakin membenci
dan takut pada mereka.
"Nah, Sir," kata Bulldog sangat serius, "kau
ini hewan, sayuran, atau mineral?" Itulah yang
sebenarnya dikatakan hewan itu, tapi yang
bisa didengar Paman Andrew hanyalah, "Gr-rrarrh-
ow!"
191
KAU mungkin berpikir hewan-hewan sangatlah
bodoh karena tidak melihat Paman
Andrew merupakan makhluk yang sejenis
dengan kedua anak itu dan si kusir kereta.
Tapi kau harus ingat para hewan belumlah
tahu tentang pakaian. Mereka berpikir rok
Polly, setelan Norfolk Digory, dan topi bulat si
kusir kereta adalah bagian tubuh seperti bulu
di tubuh mereka. Mereka bahkan tidak akan
tahu ketiga manusia itu berjenis sama kalau
Digory, Polly, dan si kusir belum bicara pada
mereka dan Strawberry tidak berpikir begitu.
Lagi pula Paman Andrew jauh lebih tinggi
daripada kedua anak itu dan lebih kurus daripada
si kusir kereta. Dia mengenakan pakaian
serbahitam kecuali rompi putihnya (yang tidak
terlalu putih lagi sekarang). Rambut tebal ber-
192
Digory dan Pamannya
Sama-sama dalam Kesulitan
BAB 11
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection's
ubannya (kini tampak kian berantakan) tidak
kelihatan seperti apa pun yang terdapat pada
ketiga manusia lain. Jadi wajar saja kalau
para hewan kebingungan. Yang paling buruk,
Paman Andrew tampaknya tidak bisa bicara.
Dia berusaha melakukannya. Ketika Bulldog
berbicara padanya (atau, seperti yang disangkanya,
pertama menggeram kemudian menggonggong
kepadanya) dia mengulurkan tangannya
yang gemetar dan tergagap, "Anjing baik,
anjing manis." Tapi para hewan tidak bisa
mengerti ucapannya seperti dia tidak bisa mengerti
ucapan mereka. Mereka tidak mendengar
kata-kata apa pun, hanya suara berdesis yang
aneh. Mungkin lebih baik kalau mereka tidak
mengerti apa-apa, karena tidak ada anjing yang
kuketahui, apalagi Anjing yang Bisa Berbicara
Narnia, senang dipanggil "Anjing Baik" seperti
kau suka bila dipanggil "Pria Kecil".
Kemudian Paman Andrew terjatuh dan pingsan.
"Nah!" kata Babi Hutan. "Ternyata hanya
pohon. Sudah kuduga." (Ingat, mereka belum
pernah melihat orang pingsan atau bahkan
sesuatu terjatuh.)
Bulldog, yang mengendusi seluruh tubuh
Paman Andrew, mendongak dan berkata, "Dia
193
hewan. Tentu saja hewan. Dan mungkin jenis
yang sama dengan makhluk-makhluk yang
tadi."
"Aku tidak melihat kemiripannya," kata salah
satu beruang. "Hewan tidak akan sekadar
berbaring seperti itu. Kita kan hewan dan kita
tidak berbaring begitu. Kita berdiri. Seperti
ini." Dia berdiri dengan kaki belakangnya,
mundur selangkah, tersandung cabang rendah
dan terjatuh telentang.
"Lelucon ketiga, lelucon ketiga, lelucon ketiga!"
kata Jackdaw penuh semangat.
"Aku masih berpikir dia sejenis pohon,"
kata Babi Hutan.
194
"Kalau dia memang pohon," kata beruang
yang lain, "mungkin ada sarang lebah di
dalamnya."
"Aku yakin dia bukan pohon," kata Luak.
"Kurasa dia berusaha bicara sebelum dia tergeletak."
"Itu hanya suara angin di antara cabangcabangnya,"
kata Babi Hutan.
"Kau tidak bermaksud," kata Jackdaw kepada
Luak, "bahwa kau berpikir dia hewan
yang bisa bicara, kan? Dia bahkan tidak mengatakan
sepatah kata pun."
"Namun, kalian tahu," kata Gajah (gajah
betina tentu saja, karena suaminya, bila kau
ingat, telah dipanggil untuk rapat dengan
Aslan), "namun, kalian tahu, dia mungkin saja
memang sejenis hewan. Bukankah gumpalan
putih di bagian ujung sini semacam wajah?
Dan bisakah lubang-lubang itu mata dan mulut?
Tidak ada hidung, tentu saja. Tapi yah—
ehem—kita tidak boleh berpikiran sempit. Tidak
banyak di antara kita punya sesuatu yang bisa
benar-benar disebut sebagai Hidung." Dia melirik
belalai panjangnya dengan rasa bangga
yang pantas dimaklumi.
"Aku sangat keberatan dengan pernyataan
itu," kata Bulldog.
195
"Gajah benar juga," kata Tapir.
"Ah, aku tahu!" kata Keledai ceria. "Mungkin
dia hewan yang tidak bisa bicara tapi
mengira dia bisa."
"Bisakah dia dibuat berdiri?" tanya Gajah
berpikir keras. Dia meraih lembut sosok lunglai
Paman Andrew dengan belalainya dan mendirikannya
dengan salah satu sisi di atas. Sayangnya
terbalik sehingga dua setengah sovereign,
tiga setengah crown, dan enam pence terjatuh
dari sakunya. Tapi tidak ada gunanya. Paman
Andrew terjatuh lagi.
"Nah kan!" kata beberapa suara. "Dia sama
sekali bukan hewan. Dia bahkan tidak hidup."
"Aku yakin dia memang hewan," kata Bulldog.
"Cium saja dia sendiri."
"Penciuman bukan segalanya," kata Gajah.
"Lho," kata Bulldog, "kalau kita tidak bisa
memercayai hidung kita, apa lagi yang bisa
dipercayai?"
"Yah, otak mungkin," Gajah menjawab ringan.
"Aku sangat keberatan dengan pernyataan
itu," kata Bulldog.
"Yah, kita harus melakukan sesuatu tentang
dia," kata Gajah. "Karena mungkin saja dia
Kebahatan, dan dia harus ditunjukkan ke
196
Aslan. Bagaimana pendapat sebagian besar kalian?
Apakah dia hewan atau sejenis pohon?"
"Pohon! Pohon!" kata lusinan suara.
"Baiklah," kata Gajah. "Kalau begitu, jika
dia memang pohon berarti dia akan mau ditanam.
Kita harus menggali lubang."
Dua tikus tanah membereskan masalah itu
dengan cukup cepat. Ada sedikit perdebatan
tentang ujung Paman Andrew yang mana yang
harus dimasukkan ke tanah, dan dia nyaris
sekali ditanam dengan kepala di bawah. Beberapa
hewan berkata kaki-kakinya pasti cabang
dan karena itu benda abu-abu dan berbulu
lebat (maksudnya kepalanya) pasti akar.
Tapi kemudian hewan-hewan lain berkata bahwa
bagian ujung yang bercabang dua lebih
kotor berlumpur dan lebih menjulur panjang,
seperti selayaknya akar. Jadi akhirnya dia ditanam
dengan kepala di atas. Ketika mereka
menutup lubang dengan tanah, badan Paman
Andrew terkubur hingga di atas lututnya.
"Dia kelihatan layu sekali," kata Keledai.
"Tentu saja dia butuh disiram," kata Gajah.
"Kurasa aku bisa bilang (tanpa bermaksud
menyinggung siapa pun yang hadir) bahwa
mungkin, untuk pekerjaan semacam ini, jenis
hidungku—"
197
"Aku sangat keberatan dengan pernyataan
itu," kata Bulldog. Tapi Gajah tetap berjalan
perlahan ke sungai, mengisi belalainya dengan
air, dan kembali untuk mengurus Paman
Andrew. Hewan cerdas itu terus melakukan ini
sampai bergalon-galon air telah disemprotkan
ke Paman Andrew, dan air mengalir dari bagian
buntut jas panjangnya seolah dia mandi dengan
pakaian lengkap. Akhirnya semprotan air itu
menyadarkannya. Dia terbangun dari pingsannya,
membuka mata dan melihat. Benar-benar
pemandangan yang luar biasa!
198
Tapi kita harus meninggalkan dia untuk merenungkan
segala perbuatan jahatnya (kalau
dia memang mungkin melakukan sesuatu yang
begitu masuk akal seperti itu) dan beralih ke
hal-hal yang lebih penting.
Strawberry berlari bersama Digory di punggungnya
sampai suara hewan-hewan lain tidak
terdengar lagi, dan kini grup kecil Aslan dan
para anggota dewan yang dipilihnya sudah
cukup dekat. Digory tahu dia tidak bisa begitu
saja mengganggu pertemuan resmi tersebut, tapi
tidak perlu melakukan itu. Hanya dengan satu
kata dari Aslan, gajah jantan, gagak-gagak,
dan para makhluk sisanya menyingkir ke samping.
Digory turun dari kuda dan mendapati
dirinya bertatapan muka dengan Aslan. Dan
Aslan lebih besar, indah, bersinar keemasan,
dan mengerikan daripada perkiraannya. Dia
tidak berani menatap langsung matanya yang
menakjubkan.
"Saya mohon—Pak Singa—Aslan—Sir," kata
Digory, "bisakah Anda—bolehkan saya—saya
mohon, maukah Anda memberi saya buah
ajaib di negeri ini yang bisa menyembuhkan
ibu saya?"
Digory benar-benar berharap sang singa akan
menjawab "Ya". Dia sangat takut sang singa
199
akan menjawab "Tidak". Tapi dia terkejut
sekali ketika Aslan tidak melakukan keduanya.
"Inilah anak laki-laki itu," kata Aslan, menatap
tidak pada Digory, tapi pada anggota
dewannya. "Inilah anak laki-laki yang melakukannya."
Astaga, pikir Digory, apa yang telah kulakukan?
"Putra Adam," kata sang singa. "Ada penyihir
jahat di negeri baruku Narnia. Ceritakan
kepada para makhluk agung ini bagaimana
dia bisa sampai di sini."
Lusinan hal berbeda yang bisa dia katakan
berkelebat di benak Digory, tapi dia punya
akal sehat untuk tidak mengatakan apa pun
kecuali kejadian yang sebenar-benarnya.
"Aku yang membawanya, Aslan," dia menjawab
dengan suara pelan.
"Untuk tujuan apa?"
"Aku ingin mengeluarkannya dari duniaku
sendiri dan mengembalikannya. Aku kira aku
sedang membawanya ke negerinya sendiri."
"Bagaimana dia bisa tiba di duniamu, Putra
Adam?"
"Dengan—dengan Sihir."
Sang singa tidak mengatakan apa-apa dan
Digory tahu ceritanya sudah cukup.
200
"Sihir pamanku, Aslan," katanya. "Dia mengirim
kami keluar dari dunia kami dengan
cincin-cincin ajaib, setidaknya aku terpaksa pergi
karena dia sudah mengirim Polly tanpa
persetujuannya, kemudian kami bertemu sang
penyihir di tempat bernama Charn dan dia
memegangi kami ketika—"
"Kau bertemu penyihir itu?" tanya Aslan
dengan suara rendah yang nyaris mengandung
geraman.
"Dia terbangun," kata Digory menyesal. Kemudian
wajahnya memucat, "Maksudku, aku
membangunkannya. Karena aku ingin tahu apa
yang akan terjadi kalau aku memukul bel.
Polly tidak mau melakukannya. Bukan salahnya.
Aku—aku bertengkar dengannya. Aku tahu seharusnya
aku tidak melakukan itu. Kurasa aku
agak terkena mantra tulisan di bawah bel itu."
"Benarkah?" tanya Aslan, masih dengan nada
sangat rendah dan dalam.
"Tidak," kata Digory. "Sekarang aku tahu
aku tidak terkena mantra. Aku hanya berpurapura."
Ada jeda lama. Dan sepanjang waktu itu
Digory berpikir, "Aku sudah mengacaukan segalanya.
Sekarang tidak ada kesempatan membawakan
apa pun untuk Ibu."
201
Ketika sang singa berbicara lagi, kata-katanya
bukanlah untuk Digory.
"Kalian lihat, teman-teman," katanya, "bahkan
sebelum dunia baru dan bersih yang kuberikan
kepada kalian berusia tujuh jam, kekuatan
kejahatan telah memasukinya, dibangunkan
dan dibawa ke sini oleh Putra Adam ini."
Para hewan, bahkan Strawberry, memutar mata
mereka ke Digory sampai anak itu berharap
tanah akan menelannya. "Tapi janganlah kalian
menjadi muram," kata Aslan, masih berbicara
pada para makhluk Narnia. "Kejahatan akan
sampai pada kejahatan, tapi perjalanannya masih
sangat jauh, dan aku akan memastikan
yang terburuk hanya akan menimpa diriku
sendiri. Sementara itu, marilah kita menyusun
peraturan sehingga untuk ratusan tahun tanah
ini tetap akan menjadi tanah bahagia di dunia
yang bahagia. Dan karena ras Adam telah
melakukan kerusakan, ras Adam-lah yang akan
membantu memperbaikinya. Mendekatlah, kalian
berdua."
Kata-kata terakhir ditujukan kepada Polly
dan si kusir kereta yang kini telah tiba. Mata
dan mulut Polly terbuka lebar, dia menatap
lekat Aslan sambil menggenggam erat tangan
si kusir. Si kusir melihat sekilas ke sang singa,
202
membuka topi bulatnya, belum ada yang pernah
melihatnya tanpa topi itu. Ketika topi
telah dilepas, dia tampak lebih muda dan
ramah, juga lebih seperti orang desa dan kurang
seperti kusir kereta sewaan London.
"Nak," kata Aslan kepada si kusir. "Aku
telah mengenalmu lama. Apakah kau mengenaliku?"
"Yah, tidak, Sir," kata si kusir. "Setidaknya,
tidak dengan cara yang biasa. Namun entah
bagaimana saya merasa, kalau saya boleh bebas
bicara, sepertinya kita sudah pernah bertemu."
"Memang benar," kata sang singa. "Kau
tahu lebih banyak daripada yang kaukira, dan
kau akan hidup untuk mengenalku lebih dekat
lagi. Apakah tanah ini memuaskanmu?"
"Jamuan yang menyenangkan, Sir," jawaban
si kusir.
"Apakah kau ingin tinggal di sini selamanya?"
"Yah, begini, Sir, saya sudah menikah," kata
si kusir. "Saya pikir, kalau istri saya juga
berada di sini, kami akan sama-sama tidak
mau kembali ke London. Karena kami sebenarnya
orang-orang desa."
Aslan mendongakkan kepala bersurai lebatnya,
membuka mulut, dan menyuarakan sebuah
nada panjang, tidak terlalu keras, tapi penuh
203
kekuatan. Ketika mendengarnya, jantung Polly
melompat dalam dadanya. Dia yakin suara itu
panggilan, dan siapa pun yang mendengarnya
akan mau mematuhi dan (terlebih lagi) akan
menjadi mampu mematuhi, sebanyak apa pun
dunia dan masa yang berada di antaranya.
Jadi walaupun Polly dipenuhi rasa takjub, dia
tidak benar-benar kaget atau terkejut ketika
tiba-tiba wanita muda berwajah ramah dan
jujur keluar entah dari mana dan berdiri di
sampingnya. Polly langsung tahu dia istri si
kusir, dijemput dari dunia kita tidak dengan
cincin ajaib yang merepotkan, tapi dengan
begitu cepat, sederhana, dan manis seperti burung
yang terbang ke sarangnya. "Wanita muda
itu sepertinya sedang mencuci karena dia mengenakan
celemek, lengan bajunya digulung
hingga ke siku, dan ada busa sabun di kedua
tangannya. Kalau dia punya waktu untuk mengenakan
pakaian terbaiknya (topi terbaiknya
dihiasi buah ceri imitasi) dia akan tampak
buruk. Begini saja seadanya, dia tampak manis.
Tentu saja dia mengira dia sedang bermimpi.
Itulah sebabnya dia tidak langsung berlari menuju
suaminya dan bertanya apa sebenarnya
yang telah terjadi pada diri mereka. Tapi ketika
melihat sang singa, dia tidak merasa cukup
204
yakin ini mimpi, tapi entah bagaimana dia
tidak tampak ketakutan. Kemudian dia membungkuk
kecil memberi hormat, dengan cara
yang masih diketahui beberapa gadis desa pada
masa-masa itu. Setelah itu, dia menghampiri
suaminya dan melingkarkan tangan ke tangan
si kusir, lalu berdiri di sana melihat ke sekelilingnya
dengan agak malu-malu.
"Anak-anakku," kata Aslan, memaku matanya
pada kedua manusia itu, "kalian akan
menjadi raja dan ratu pertama Narnia."
Mulut si kusir ternganga karena terkejut,
wajah istrinya berubah menjadi sangat merah.
"Kalian akan memerintah dan memberi nama
pada makhluk-makhluk ini, menjaga keadilan
205
di antara mereka, juga melindungi mereka dari
musuh-musuh mereka ketika para musuh bangkit.
Para musuh itu memang akan bangkit,
karena ada penyihir jahat di dunia ini."
Dengan kesulitan, si kusir menelan ludah
dua-tiga kali dan berdeham.
"Maaf, Sir," katanya, "bukannya saya tidak
berterima kasih sekali kepada Anda (istri saya
pun akan melakukan hal yang sama), tapi
saya bukanlah orang yang cocok untuk pekerjaan
seperti itu. Begini, saya tidak pernah
dapat banyak pendidikan."
"Yah," kata Aslan, "bisakah kau menggunakan
cangkul, bajak, dan memanen makanan
dari bumi?"
"Ya, Sir, saya bisa melakukan pekerjaan semacam
itu, karena dibesarkan untuk melakukannya."
"Bisakah kau memerintah makhluk-makhluk
ini dengan lembut dan adil, mengingat bahwa
mereka bukanlah budak seperti hewan-hewan
bodoh di dunia tempat kau dilahirkan, tapi
hewan-hewan yang bisa berbicara dan rakyat
bebas?"
"Saya mengerti itu, Sir," jawab si kusir.
"Saya akan berusaha memperlakukan mereka
tanpa membeda-bedakan."
206
"Dan apakah kau akan membesarkan anakanak
juga cucu-cucumu untuk melakukan hal
yang sama?"
"Saya pasti akan berusaha melakukan itu,
Sir. Saya akan berusaha sebaik-baiknya: bukankah
begitu, Nellie?"
"Dan kau tidak akan menjadikan salah satu
anakmu sebagai favorit dibanding anak-anakmu
yang lain atau dibanding makhluk-makhluk
lain, atau membiarkan yang satu membawahi
yang lain atau menggunakannya dengan tidak
benar?"
"Saya tidak akan pernah bisa membiarkan
hal seperti itu terjadi, Sir, dan itu kebenaran.
Saya akan menghukum mereka bila aku mengetahui
mereka melakukan itu," kata si kusir.
(Sepanjang percakapan ini suaranya menjadi
kian lambat dan kaya. Lebih seperti suara
orang desa yang pasti dimilikinya saat dia
masih kanak-kanak dan tidak seperti aksen
kelas rendahan yang tajam dan cepat.)
"Dan jika para musuh datang menantang
tanah ini (karena mereka akan datang) lalu
ada perang, apakah kau akan jadi yang pertama
maju bertempur dan terakhir mengundurkan
diri?"
"Yah, Sir," kata si kusir sangat lambat,
207
"seseorang tidak akan tahu pasti apa yang
terjadi sebelum dia mencobanya. Yang bisa
saya katakan adalah saya mungkin akan jadi
pria lembek di saat seperti itu. Saya tidak
pernah berkelahi kecuali dengan tinju saya.
Tapi saya akan berusaha—setidaknya, saya harap
saya akan berusaha—memenuhi bagian
saya."
"Kalau begitu," kata Aslan, "kau akan melakukan
segala tindakan yang harus dilakukan
seorang raja. Proses penobatanmu akan segera
dilakukan. Kau, anak-anakmu, dan cucu-cucumu
akan diberkahi, dan beberapa akan menjadi
raja-raja Narnia, yang lain akan menjadi rajaraja
Archenland yang terletak di pegunungan
selatan sana. Dan kau, putri kecil (di sini dia
menoleh ke arah Polly) dipersilakan tinggal.
Apakah kau sudah memaafkan anak laki-laki
itu karena telah menyakitimu di Aula Sosok di
istana terlantar Charn yang terkutuk?"
"Ya, Aslan, kami sudah berbaikan," jawab
Polly.
"Bagus kalau begitu," kata Aslan. "Dan
sekarang untuk si anak laki-laki itu sendiri."
208
DIGORY menutup mulutnya rapat-rapat.
Perasaannya kian tidak nyaman. Dia berharap,
apa pun yang terjadi, dia tidak akan
ceroboh atau melakukan apa pun yang konyol.
"Putra Adam," kata Aslan. "Apakah kau
siap memperbaiki kesalahan yang telah kaulakukan
pada negeri terindahku Narnia tepat di
hari kelahirannya?"
"Yah, aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan,"
kata Digory. "Jadi begini, sang ratu
melarikan diri dan—"
"Aku tanya, apakah kau siap?" tanya sang
singa.
"Ya," jawab Digory. Dia sempat punya ide
gila untuk menjawab, "Aku akan berusaha
membantumu kalau kau berjanji mau menolong
ibuku," tapi dia sadar tepat pada waktunya
209
Petualangan Strawberry
BAB 12
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection's
bahwa sang singa bukanlah sejenis makhluk
yang bisa kauajak tawar-menawar. Tapi ketika
dia berkata "Ya", pikirannya melayang kepada
ibunya dan dia mengingat kembali harapanharapan
besar yang tadinya dia miliki, dan
betapa semuanya akan terbang pergi. Tenggorokannya
pun terasa tersumbat dan air mata
mengalir deras saat dia merepet:
"Tapi aku mohon, aku mohon—maukah
kau—bisakah kau memberiku sesuatu yang bisa
menyembuhkan ibuku?" Hingga saat itu dia
terus menatap kaki besar sang singa dan cakarcakar
raksasa yang ada di sana, tapi kini
dalam keputusasaan, dia mendongak untuk menatap
wajahnya. Yang dia lihat membuatnya
sangat terkejut, lebih daripada apa pun di
dalam hidupnya. Karena ternyata wajah keemasan
itu kini menunduk di dekat wajahnya
sendiri dan (yang paling menakjubkan) air mata
besar yang berkilauan tampak di mata sang
singa. Air mata itu begitu besar dan bercahaya
dibanding air mata Digory sehingga sesaat anak
itu merasa seolah sang singa pasti lebih sedih
karena keadaan ibunya daripada dirinya sendiri.
"Anakku, anakku," kata Aslan. "Aku tahu.
Kesedihan memang begitu menguasai. Baru kau
dan aku yang tahu soal itu di tanah ini.
210
Marilah kita saling membantu. Tapi aku harus
memikirkan ratusan tahun hidup Narnia. Sang
penyihir yang kaubawa ke dunia ini akan
kembali ke Narnia lagi. Tapi itu bisa dicegah.
Aku berniat menanam sebuah pohon di Narnia
yang akan melindungi Narnia dari penyihir itu
selama bertahun-tahun. Supaya tanah ini akan
memiliki pagi cerah yang lama sebelum ada
awan datang menutupi mataharinya. Kau harus
mengambilkan bibit yang bakal menjadi pohon
itu untukku."
"Ya, Sir," kata Digory. Dia tidak tahu bagaimana
caranya tapi merasa sangat yakin kini
dia akan bisa melakukan itu. Sang singa menarik
napas dalam-dalam, menundukkan kepala
lebih rendah dan memberi anak itu kecupan
singa. Dalam sekejap Digory merasakan kekuatan
dan keberanian baru mengalir ke dalam
tubuhnya.
"Anakku tersayang," kata Aslan, "aku akan
memberitahumu apa yang harus dilakukan. Berputar
dan tataplah arah Barat, katakan kepadaku
apa yang kaulihat?"
"Aku melihat pegunungan yang teramat besar,
Aslan," kata Digory. "Aku melihat sungai
menuruni tebing-tebing, menjadi air terjun. Dan
di balik tebing itu ada bukit-bukit hijau tinggi
211
dengan hutan. Dan di balik semua itu daerahdaerah
lebih tinggi yang tampak hampir kelam.
Kemudian, jauh sekali, ada gunung-gunung bersalju
yang bertumpuk—seperti lukisan Pegunungan
Alpen. Dan di belakang semua itu
tidak ada apa-apa kecuali cakrawala."
"Kau melihat dengan baik," kata sang singa.
"Sekarang daratan Narnia berakhir di mana
air terjun jatuh, dan sekali kau mencapai ujung
tertinggi tebing kau akan keluar dari Narnia
dan masuk ke Daerah Barat yang Liar. Kau
harus menjelajahi pegunungan itu sampai raenemukan
lembah hijau dengan danau biru yang
dipagari pegunungan es. Di ujung danau ada
bukit hijau yang curam. Di bagian atas bukit
itu ada taman. Di tengah taman itu terdapat
pohon. Petik sebuah apel dari pohon itu dan
bawalah kepadaku."
"Ya, Sir," kata Digory lagi. Dia sama sekali
tidak punya bayangan bagaimana akan memanjat
tebing dan menemukan jalan melewati
seluruh pegunungan itu, tapi dia tidak ingin
mengatakan itu karena takut akan terdengar
seperti sedang membuat-buat alasan. Tapi dia
akhirnya berkata, "Aku berharap, Aslan, kau
tidak tergesa-gesa. Aku tidak akan mampu
pergi ke sana dan kembali dengan cepat."
212
"Anak Adam kecil, kau akan mendapat bantuan,"
kata Aslan. Dia kemudian berputar
menghadap Kuda yang sepanjang waktu ini
berdiri diam di samping mereka, mengayunayunkan
ekornya untuk mengusir lalat, dan
mendengarkan dengan kepala dimiringkan ke
salah satu sisi karena percakapan itu agak
sulit dimengerti.
"Anakku," kata Aslan kepada Kuda, "apakah
kau mau menjadi kuda bersayap?"
Seharusnya kau melihat bagaimana si kuda
mengibaskan surainya dan betapa lubang hidungnya
mengembang, juga entakan pelan yang
dilakukannya dengan salah satu kaki belakangnya.
Jelas sekali dia sangat ingin menjadi kuda
bersayap. Tapi dia hanya berkata:
"Kalau kauinginkan itu, Aslan—kalau kau
benar bersungguh-sungguh—aku tidak tahu
kenapa harus aku yang dipilih—aku bukanlah
kuda yang sangat pintar."
"Bersayaplah. Jadilah ayah untuk semua kuda
bersayap," aum Aslan dengan suara yang menggetarkan
tanah. "Namamu kini Fledge."
Kuda itu mendadak melonjak, seperti yang
dilakukannya di hari-hari dulu yang melelahkan
ketika dia menarik kereta. Kemudian dia raeringkik.
213
Dia meregangkan lehernya
seolah ada lalat menggigiti
bahunya dan dia
ingin menggaruknya. Kemudian,
seperti ketika para hewan
muncul dari tanah, keluar
dari bahu Fledge sayap-sayap
yang melebar dan
tumbuh, lebih besar
daripada sayap-sayap
elang, lebih besar
daripada sayap-sayap
angsa, lebih besar daripada
sayap-sayap malaikat
di jendela gereja. Sayap
Fledge berwarna cokelat kemerahan tembaga
dan berkilau. Dia mengibaskan kedua sayap
itu kuat-kuat dan melompat ke udara. Sekitar
enam meter di atas Aslan dan Digory dia
mendengus, meringkik, dan mengangkat kaki
214
depannya. Kemudian setelah mengelilingi mereka
sekali, dia mendarat di bumi dengan
keempat kakinya, tampak canggung dan terkejut,
tapi luar biasa bahagia.
"Apakah menyenangkan rasanya, Fledge?"
tanya Aslan.
"Luar biasa rasanya, Aslan," kata Fledge.
"Apakah kau bersedia membawa putra Adam
kecil ini di punggungmu menuju lembah gunung
yang kuceritakan tadi?"
"Apa? Sekarang? Saat ini juga?" tanya Strawberry—
atau Fledge, begitulah kita harus memanggilnya
sekarang—"Hore! Ayolah, makhluk
kecil, aku sudah pernah membawa makhluk
sepertimu di punggungku. Dulu, dulu sekali.
Ketika ada lapangan hijau dan gula."
"Apa yang sedang dibisikkan dua putri
Hawa?" tanya Aslan, berbalik mendadak sekali
ke arah Polly dan istri si kusir, yang sudah
mulai akrab.
"Kalau Anda tidak keberatan, Sir," jawab
Ratu Helen (karena itulah nama Nelle si istri
kusir sekarang), "saya rasa gadis kecil ini juga
ingin pergi, kalau itu tidak menyusahkan."
"Bagaimana pendapat Fledge tentang hal
ini?" tanya sang singa.
"Oh, aku tidak keberatan harus membawa
215
dua orang, apalagi keduanya kecil," jawab
Fledge. "Tapi kuharap Gajah tidak mau ikut
juga."
Gajah sama sekali tidak berminat, lalu raja
baru Narnia membantu kedua anak itu menaiki
Fledge. Lebih tepatnya, dia mengangkat tubuh
Digory dengan kasar tapi meletakkan Polly
dengan lembut dan anggun di punggung kuda,
seolah gadis cilik itu terbuat dari keramik dan
mudah pecah. "Nah, mereka sudah siap, Strawberry—
ah maksudku, Fledge. Ini benar-benar
tidak terduga."
"Jangan terbang terlalu tinggi," pesan Aslan.
"Jangan mencoba melewati puncak gununggunung
es. Awasi baik-baik lembah-lembah,
daerah-daerah hijau, terbanglah melewati tempat-
tempat itu. Akan selalu ada jalan tembus.
Dan sekarang, pergilah dengan restuku."
"Oh, Fledge!" kata Digory, mencondongkan
tubuh ke depan untuk menepuk lembut leher
mengilap kuda itu. "Ini menyenangkan. Berpeganglah
erat padaku, Polly."
Detik berikutnya daratan berada jauh di
bawah mereka dan tampak berputar-putar ketika
Fledge, seperti burung dara raksasa, berputar
sekali-dua kali sebelum memulai penerbangan
jauh ke arah baratnya. Saat mencoba
216
melihat ke bawah, Polly nyaris tidak bisa melihat
sang raja dan ratu, bahkan Aslan hanyalah
tampak seperti titik kuning cerah di hamparan
rumput hijau. Tak lama kemudian angin menerpa
wajah mereka dan sayap-sayap Fledge
mengepak dengan ritme teratur.
Seluruh Narnia, berbagai warna dari ladang,
bebatuan, bunga heather, dan beragam jenis
pohon terhampar di bawah mereka, sungai
meliuk melewatinya seperti pita perak. Belumbelum
mereka sudah bisa melihat bagian puncak
perbukitan rendah yang terletak di arah
utara di sebelah kanan mereka. Di balik perbukitan
itu tanah perawan yang luas berlekuklekuk
naik-turun hingga bertemu horison. Di
sebelah kiri mereka pegunungannya lebih tinggi,
tapi terkadang ada celah di antara hutan cemara
yang memberimu pemandangan sekilas
daratan selatan yang terhampar setelahnya. Daratan
yang tampak begitu biru dan nun jauh
di sana.
"Pasti Archenland ada di sana," kata Polly.
"Ya, tapi lihat di depan!" kata Digory.
Karena kini tebing-tebing besar penghalang
berdiri di depan dan mereka nyaris dibutakan
sinar matahari yang berdansa di permukaan
air terjun besar. Di sinilah sungai menggeram
217
dan mengalir deras turun menuju Narnia dari
asalnya di daratan-daratan barat yang tinggi.
Mereka kini sudah terbang sangat tinggi sehingga
gemuruh air terjun itu hanya bisa terdengar
sebagai suara pelan yang tipis, tapi
mereka belumlah cukup tinggi untuk bisa terbang
melewati bagian puncak tebing-tebing.
"Kita harus sedikit berzig-zag di sini," kata
Fledge. "Berpeganglah erat-erat."
Dia mulai terbang ke kiri dan ke kanan,
semakin tinggi pada setiap belokan. Udara
terasa kian mendingin dan mereka mendengar
pekikan elang-elang jauh di bawah mereka.
"Wah, lihat! Lihat ke belakang," kata Polly.
Di sana mereka bisa melihat seluruh lembah
Narnia terhampar hingga menyentuh kilauan
laut, tepat sebelum langit timur. Dan kini mereka
sudah begitu tinggi sehingga bisa melihat
garis-garis tegas sosok pegunungan yang tampak
kecil di balik tanah perawan barat laut, juga
daratan yang tampak seperti bentangan pasir
jauh di selatan.
"Kalau saja ada seseorang yang bisa memberitahu
kita apa saja tempat-tempat itu," kata
Digory.
"Tapi kurasa tempat-tempat itu memang belum
ada," kata Polly. "Maksudku, belum ada
218
219
orang di sana, dan belum ada yang terjadi di
sana. Dunia ini baru dimulai hari ini."
"Memang, tapi orang-orang pasti akan sampai
ke sana," kata Digory. "Lalu mereka akan
punya sejarah, ya kan?"
"Yah, untunglah mereka belum punya sejarah
sekarang," kata Polly. "Karena tidak ada yang
bisa benar-benar mempelajari sejarah. Segala
pertempuran, tanggal-tanggal, dan hal-hal membosankan
itu."
Kini mereka berada di atas tebing-tebing
dan dalam beberapa menit kemudian dataran
lembah Narnia sudah hilang dari jangkauan
pandangan. Mereka terbang di atas daerah liar
dengan perbukitan curam dan hutan-hutan gelap,
masih dengan mengikuti aliran sungai.
Sosok samar gunung-gunung yang luar biasa
besar muncul di depan. Tapi matahari kini
tepat setinggi mata para pengelana sehingga
mereka tidak bisa melihat dengan benar-benar
jelas ke arah sana. Tapi kemudian matahari
terbenam lebih rendah dan lebih rendah lagi
hingga langit barat menjelma menjadi kuali
raksasa penuh emas leleh. Akhirnya matahari
pun tenggelam di balik puncak bergerigi yang
berdiri membatasi cahaya, puncaknya tampak
setajam dan sedatar seolah potongan karton.
220
"Tidak terlalu hangat di atas sini," kata
Polly.
"Dan sayap-sayapku sudah mulai terasa
sakit," kata Fledge. "Tidak ada tanda-tanda
lembah dengan danau, seperti yang dikatakan
Aslan. Bagaimana kalau kita turun dan mencari
tempat yang enak untuk menginap? Sepertinya
kita tidak akan mencapai tempat itu malam
ini juga."
"Ya, lagi pula sepertinya ini waktunya makan
malam, kan?" kata Digory.
Jadi Fledge merendahkan terbangnya. Ketika
mereka sudah lebih dekat dengan daratan dan
berada di antara perbukitan, udara menghangat
dan setelah berjalan berjam-jam tanpa mendengar
apa pun kecuali kepakan sayap Fledge,
senang rasanya bisa mendengar suara-suara daratan
yang familier lagi—suara percikan air
sungai di dasar bebatuannya dan derikan pepohonan
yang ditiup angin sepoi-sepoi. Wangi
hangat dan nyaman tanah, rumput, dan bunga
yang telah disinari mentari mencapai hidung
mereka. Akhirnya Fledge mendarat. Digory berputar
turun kemudian membantu Polly turun
dari punggung Fledge. Keduanya senang bisa
meregangkan kaki kaku mereka.
Lembah tempat mereka berada sekarang ber-
221
ada di tengah pegunungan. Tebing-tebing tinggi
bersalju, yang salah satunya tampak semerah
mawar karena memantulkan sinar matahari
terbenam, menjulang di atas mereka.
"Aku lapar," kata Digory.
"Kalau begitu, makanlah," kata Fledge melahap
semulut penuh rumput. Kemudian dia
mendongak—masih sambil mengunyah, ujungujung
rumput muncul di setiap sisi bibirnya
seperti kumis—dan berkata, "Ayolah, kalian
berdua. Tak usah malu-malu. Ada cukup banyak
untuk kita semua."
"Tapi kami tidak bisa makan rumput," kata
Digory.
"H'm, h'm," kata Fledge berbicara dengan
mulut penuh. "Yah—h'm—kalau begitu aku
tidak tahu apa yang harus kalian makan. Padahal
rumput ini lezat sekali."
Polly dan Digory bertukar pandangan bingung.
"Yah, aku sih yakin seseorang mungkin sudah
menyiapkan makanan kita," kata Digory.
"Aku yakin Aslan akan melakukan itu kalau
saja kau memintanya tadi," kata Fledge.
"Apakah tidak mungkin dia sudah tahu tanpa
diminta?" tanya Polly.
"Aku tidak ragu dia pasti sudah tahu," kata
222
kuda itu (masih dengan mulut penuh). "Tapi
aku juga punya dugaan dia lebih suka bila
kau meminta terlebih dahulu."
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?"
tanya Digory.
"Aku yakin aku tidak tahu," kata Fledge.
"Kecuali kau mau mencoba rumput ini. Siapa
tahu kau akan menyukainya, lebih daripada
dugaanmu."
"Oh, jangan konyol," kata Polly, mengentakkan
kaki. "Tentu saja manusia tidak bisa raakan
rumput, sama seperti kau tidak bisa makan
daging domba."
"Kumohon jangan sebut-sebut daging domba
atau semacamnya," kata Digory. "Kau bakal
membuat keadaan lebih buruk."
Digory bilang sebaiknya Polly pulang sendiri
dengan cincinnya supaya bisa makan di sana.
Dia sendiri tidak bisa melakukan itu karena
telah berjanji akan pergi langsung memenuhi
permintaan Aslan. Lagi pula kalau dia muncul
lagi di rumah, apa pun bisa terjadi untuk
mencegahnya kembali ke sini. Tapi Polly bilang
dia tidak akan meninggalkannya sendiri sehingga
Digory pun memuji Polly baik sekali.
"Ah iya," kata Polly, "aku masih punya
kantong berisi sisa permen toffee di jaketku.
223
Pastinya itu akan lebih baik daripada tidak
sama sekali."
"Jauh lebih baik," kata Digory. "Tapi berhati-
hatilah memasukkan tangan ke sakumu,
jangan sampai cincinnya tersentuh."
Ini tindakan yang sulit dan butuh ketelitian
namun akhirnya mereka berhasil melakukannya.
Kantong kertas kecil itu sudah tergencet dan
lengket ketika mereka mengeluarkannya, jadi
sekarang mereka terpaksa merobek dan membersihkan
kantong kertas yang menempel ke
permen, bukannya tinggal mengeluarkan permen
dari kantong. Beberapa orang dewasa (kau
tahu sendiri betapa mereka bisa begitu ributnya
hanya karena hal-hal seperti ini) akan lebih
memilih tidak makan malam sama sekali daripada
memakan permen-permen toffee itu. Masih
ada sembilan permen di dalam kantong.
Digory-lah yang punya ide cemerlang untuk
membagi masing-masing empat dan menanam
toffee kesembilan. Dia bilang, "Kalau batang
besi dari lampu tiang berubah menjadi pohon
lampu kecil, bisa saja permen ini jadi pohon
toffee, kan?" Jadi mereka menggali lubang
kecil di tanah yang berumput itu dan menanam
permen tersebut. Kemudian mereka memakan
bagian masing-masing, melakukannya selama
224
mungkin yang mereka bisa. Makan malam ini
menyedihkan sekali, bahkan dengan semua kertas
yang mau tidak mau ikut termakan oleh
mereka.
Setelah menyelesaikan makan malamnya yang
luar biasa, Fledge berbaring. Kedua anak itu
menghampirinya dan berbaring di sisi yang
berbeda, bersender di tubuh hangat kuda tersebut.
Lalu ketika Fledge melebarkan sayapnya
di atas Digory dan Polly, mereka merasa cukup
nyaman dan hangat. Saat bintang-bintang muda
yang terang keluar di dunia baru itu, mereka
membicarakan segalanya: tentang betapa Digory
berharap mendapatkan sesuatu untuk ibunya
dan tentang bagaimana dia malah dikirim untuk
memenuhi permintaan Aslan. Kemudian
mereka akan saling mengulangi semua tanda
225
yang menunjukkan tempat yang mereka cari—
danau biru dan bukit dengan taman di atasnya.
Percakapan barulah memelan karena mereka
mulai mengantuk, ketika mendadak Polly duduk
dengan mata terbuka lebar dan berkata,
"Sstt!"
Mereka bertiga memasang telinga setajam
mungkin.
"Mungkin hanya suara pohon yang ditiup
angin," kata Digory akhirnya.
"Aku tidak yakin," kata Fledge. "Yah pokoknya—
tunggu! Suara itu terdengar lagi. Demi
Aslan, memang ada sesuatu."
Kuda itu bangkit dengan suara keras dan
lompatan besar, Digory dan Polly sudah lebih
dulu berdiri. Fledge berlari kecil ke sana
kemari, mengendus-endus dan meringkik. Kedua
anak itu berjingkat-jingkat ke kiri dan ke kanan,
memeriksa ke balik setiap semak dan
pohon. Mereka terus menduga mereka telah
melihat sesuatu, bahkan ada satu saat ketika
Polly yakin sekali dia telah melihat sosok gelap
tinggi berjalan cepat menjauh ke arah barat.
Tapi mereka tidak menemukan apa pun dan
akhirnya Fledge berbaring lagi dan kedua anak
itu kembali menyelimuti diri (kalau penggunaan
kata ini memang tepat) di bawah sayapnya.
226
Mereka pun langsung tertidur. Fledge terjaga
lebih lama, menggerakkan telinga maju-mundur
dalam kegelapan dan terkadang kulitnya gemetar
sedikit seolah ada lalat mendarat di tubuhnya,
tapi akhirnya dia pun terlelap.
227

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar