Rabu, 30 Juni 2010

narnia bag.3

HEI, budak, berapa lama aku harus menunggu
kereta kudaku?" bentak sang
penyihir. Paman Andrew berjalan menjauhinya.
Sekarang ketika wanita itu benar-benar hadir,
segala pikiran konyol yang dimiliki Paman
Andrew saat bercermin langsung mengalir keluar
dari benaknya. Tapi Bibi Letty langsung
berdiri dari berlututnya dan berjalan menuju
bagian tengah ruangan.
"Dan siapa wanita muda ini, Andrew, kalau
boleh aku bertanya?" tanya Bibi Letty dengan
nada dingin.
"Orang asing terhormat—or-orang yang sangat
penting," jawab Paman Andrew terbatabata.
"Omong kosong!" kata Bibi Letty, kemudian
dia menoleh ke si penyihir, "Keluar dari rumah-
Yang Terjadi di Pintu Depan
BAB 7
119
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com
ku sekarang juga, wanita tak tahu malu, atau
aku akan memanggil polisi." Dia pikir si penyihir
pasti seseorang yang keluar dari sirkus,
lagi pula dia tidak berkenan dengan wanita
bertelanjang lengan.
"Siapa wanita ini?" tanya Jadis. "Berlututlah,
makhluk rendah, sebelum aku menghancurkanmu."
"Tidak boleh ada bahasa kasar di rumah ini
kalau kau tidak keberatan, wanita muda,"
kata Bibi Letty.
Dalam sekejap, begitu yang dirasakan Paman
Andrew, sang ratu meninggi hingga menjulang
sekali. Api berkobar dari matanya. Dia
mengangkat tangannya dan melakukan gerakan
juga menyuarakan kata-kata sama yang sebelumnya
telah mengubah gerbang istana menjadi
debu. Tapi tidak ada yang terjadi kecuali
Bibi Letty, yang mengira kata-kata mengerikan
itu dimaksudkan sebagai bahasa Inggris biasa,
berkata:
"Sudah kuduga. Wanita ini mabuk! Mabuk!
Dia bahkan tidak bisa bicara dengan jelas."
Saat itu pasti momen yang buruk bagi si
penyihir, ketika dia mendadak menyadari kekuatannya
menjadikan orang debu, yang benarbenar
nyata di dunianya, tidak akan berguna
120
di dunia kita. Tapi dia bahkan tidak kehilangan
nyali barang sedetik pun. Tanpa membuangbuang
waktu untuk memikirkan kekecewaannya,
dia membungkuk, menangkap Bibi Letty
di leher dan mata kakinya, mengangkatnya
tinggi di atas kepala seolah Bibi Letty tidak
lebih berat daripada boneka, lalu melemparnya
ke seberang ruangan. Sementara Bibi Letty
sedang berputar-putar di udara, si pelayan wanita
(yang sedang mengalami pagi indah nan
seru) melongokkan kepalanya ke pintu dan
berkata, "Kalau Anda sudah siap, Sir, keretanya
sudah datang."
"Pimpin jalan, budak," kata si penyihir ke
Paman Andrew. Pria itu mulai menggumamkan
sesuatu tentang "kekerasan yang tidak perlu—
harus benar-benar protes", tapi hanya dengan
tatapan sekilas Jadis, dia menjadi tak mampu
berkata-kata. Jadis memaksanya keluar ruangan
dan rumah. Digory berlari menuruni tangga
tepat untuk melihat pintu depan tertutup di
belakang mereka.
"Ya ampun!" katanya. "Dia lepas di London.
Dan dengan Paman Andrew. Kira-kira apa
yang akan terjadi sekarang."
"Oh, Master Digory," kata si pelayan wanita
(yang benar-benar sedang mengalami hari yang
121
indah), "entah bagaimana, saya rasa Miss
Ketterley telah melukai dirinya sendiri." Jadi
mereka bergegas ke ruang duduk untuk mencari
tahu apa yang telah terjadi.
Kalau Bibi Letty telah terjatuh pada lantai
papan atau bahkan pada karpet, kurasa tulangtulangnya
bakal patah, tapi dengan keberuntungan
besar dia telah jatuh ke atas kasur.
Bibi Letty adalah wanita tua yang sangat kuat,
para bibi sering kali begitu di masa-masa itu.
Setelah mencium bau keras sal volatile dan
duduk bergeming selama beberapa menit, dia
berkata dia tidak apa-apa kecuali menderita
beberapa memar. Tak lama kemudian dia mulai
mengambil alih situasi.
"Sarah," katanya pada si pelayan wanita
(yang belum pernah mengalami hari seperti
ini), "pergilah segera ke kantor polisi dan
beritahu mereka ada orang gila berbahaya yang
berkeliaran. Aku yang akan membawakan sendiri
makan siang Mrs Kirke." Mrs Kirke adalah,
tentu saja, ibu Digory.
Ketika makan siang ibunya telah diurus,
Digory dan Bibi Letty menyantap makan siang
mereka. Setelah itu mereka berpikir keras.
Masalahnya adalah bagaimana cara mengembalikan
si penyihir ke dunianya sendiri, atau
122
setidaknya keluar dari dunia kita, sesegera
mungkin. Apa pun yang terjadi, dia tidak
boleh dibiarkan mengacau di rumah. Ibu
Digory tidak boleh melihatnya. Dan jika mungkin,
dia juga tidak boleh dibiarkan mengacau
di London. Digory memang tidak sedang berada
di ruang duduk ketika si penyihir berusaha
"meledakkan" Bibi Letty, tapi dia telah melihatnya
"meledakkan" gerbang Charn. Jadi dia
tahu kekuatannya yang mengerikan tapi belum
tahu wanita itu telah kehilangan kekuatan itu
dengan datang ke dunia kita. Pada saat ini,
sejauh yang bisa dibayangkannya, si penyihir
mungkin sedang meledakkan Istana Buckingham
atau Gedung Parlemen, hampir pasti mengubah
sejumlah besar anggota kepolisian menjadi tumpukan
kecil debu. Dan tampaknya tidak ada
apa pun yang bisa dia lakukan untuk mencegahnya.
Tapi cincin-cincin itu sepertinya bekerja seperti
magnet, pikir Digory. Kalau saja aku
bisa menyentuhnya kemudian mengenakan cincin
kuningku, kami berdua bakal pergi ke
Hutan di Antara Dunia-dunia. Kira-kira dia
bakal melemah lagi di sana, tidak ya? Apakah
tempat itu memberikan pengaruh tertentu padanya
atau kejadian itu sekadar akibat shock
123
karena dia ditarik keluar dari dunianya? Tapi
kurasa aku harus mengambil risiko. Sekarang
bagaimana caranya aku menemukan monster
itu? Kurasa Bibi Letty tidak akan mengizinkanku
keluar sebelum aku memberitahunya ke
mana aku akan pergi. Lagi pula uangku tidak
lebih dari dua pence. Aku akan membutuhkan
lebih banyak uang untuk naik bus dan trem
kalau berniat mencarinya ke sekeliling London.
Tapi lagi-lagi aku sama sekali tidak punya
bayangan ke mana dia pergi. Kira-kira Paman
Andrew masih bersamanya, tidak ya?
Tampaknya akhirnya hanya ada satu tindakan
yang bisa dia lakukan, yaitu menunggu
dan berharap Paman Andrew dan si penyihir
akan kembali. Kalau mereka kembali, dia harus
bergegas dan memegang si penyihir lalu mengenakan
cincin kuningnya sebelum si penyihir
sempat masuk ke rumah. Ini berarti dia harus
mengawasi pintu depan seperti kucing mengawasi
lubang tikus, dia tidak berani meninggalkan
posisinya bahkan untuk sesaat. Jadi dia
pergi ke ruang makan dan "menempelkan wajahnya"—
begitu biasanya istilah yang dipakai
orang—ke jendela. Jendelanya sejenis jendela
busur yang dibangun melengkung keluar bersama
tembok hingga membentuk ceruk ba-
124
ngunan sendiri dari dalam, melaluinya kau
bisa melihat tangga menuju pintu depan juga
jalanan. Tidak akan ada orang yang mencapai
pintu depan tanpa sepengetahuanmu. Kira-kira
Polly sedang apa ya sekarang? pikir Digory.
Dia terus bertanya-tanya tentang ini dalam
setengah jam pertama yang berlalu sangat lambat.
Tapi kau tidak perlu ikut bertanya-tanya
karena aku akan memberitahumu. Polly datang
terlambat untuk makan malam dengan sepatu
dan stoking basah kuyup. Dan ketika mereka
bertanya kepadanya habis ke mana saja dan
apa saja yang telah dilakukannya, Polly menjawab
dia habis keluar bersama Digory Kirke.
Setelah ditanya lebih lanjut, Polly berkata dia
membasahi kakinya di mata air, dan bahwa
mata air itu ada di hutan. Waktu ditanya di
mana letak hutan itu, dia menjawab tidak
tahu. Ketika ditanya apakah hutan itu berada
di salah satu taman, Polly menjawab dengan
cukup jujur bahwa mungkin saja hutan itu
ada di semacam taman. Dari jawaban-jawaban
itu, ibu Polly berkesimpulan anaknya telah
pergi, tanpa memberitahu siapa-siapa, ke suatu
bagian London yang tidak dikenalinya dan
bermain di taman asing juga bersenang-senang
dengan melompat-lompat ke dalam genangan
125
air. Akibatnya Polly dimarahi karena telah sangat
nakal dan dia tidak akan diperbolehkan
bermain dengan "anak Kirke" lagi kalau kejadian
seperti ini kembali terjadi. Kemudian
dia diberi makan malam tanpa bagian santapan
yang menyenangkan dan disuruh tidur selama
dua jam penuh. Perlakuan seperti ini sering
dialami seseorang pada masa-masa itu.
Jadi sementara Digory menatap ke luar jendela
ruang makan, Polly terbaring di tempat
tidur, tapi keduanya berpikir betapa lambatnya
waktu berjalan. Kalau menurutku pribadi, aku
akan lebih suka berada pada posisi Polly. Dia
hanya perlu menunggu dua jamnya berakhir,
sedangkan Digory akan mendengar kereta kuda
sewaan, gerobak tukang roti, atau anak penjual
daging di setiap beberapa menit dan berpikir,
si penyihir datang, kemudian mendapati
dugaannya salah. Lagi pula di antara beberapa
peringatan keliru ini, yang rasanya berjamjam,
jam berdetak terus dan lalat besar—
terbang tinggi dan jauh sehingga tak bisa diraih—
berdengung membentur jendela. Rumah
Digory sejenis rumah yang bakal menjadi sangat
sunyi dan membosankan di sore hari dan
selalu berbau daging domba.
Selama pengawasan dan penantian panjang-
126
nya sesuatu yang harus kusebutkan terjadi,
karena hal lain yang penting datang setelahnya.
Seorang wanita datang membawa buah anggur
untuk ibu Digory, dan karena pintu ruang
makan terbuka, Digory tidak sengaja mendengarkan
pembicaraan Bibi Letty dan wanita
itu di ruang depan.
"Anggurnya kelihatan lezat sekali!" terdengar
suara Bibi Letty. "Aku yakin kalau ada yang
bisa membuatnya merasa lebih baik, buah inilah
jawabannya. Tapi Mabel cilik tersayangku
yang malang! Aku khawatir akan dibutuhkan
buah dari tanah kebeliaan untuk membantunya
sekarang. Tidak ada apa pun dari dunia ini
yang akan banyak membantunya." Kemudian
mereka berdua mengecilkan volume suara mereka
dan mengatakan lebih banyak hal tanpa
bisa didengar Digory.
Kalau saja dia sudah mendengar bagian tentang
tanah kebeliaan itu beberapa hari lalu
dia akan berpikir Bibi Letty hanya bicara tanpa
merujuk pada apa pun secara khusus, seperti
yang biasa dilakukan orang dewasa, dan ini
tidak akan menarik minat Digory. Barusan ini
pun dia hampir berpikir begitu. Tapi tiba-tiba
berkelebat di benaknya bahwa dia kini tahu
(bahkan jika Bibi Letty tidak), memang ada
127
dunia-dunia lain dan dia sendiri telah berada
di dalam salah satunya. Bagaimanapun ada
kemungkinan Tanah Kebeliaan memang ada di
suatu tempat. Apa pun mungkin saja ada.
Mungkin ada buah di suatu dunia lain yang
bisa benar-benar menyembuhkan ibunya! Dan
oh, oh—yah, kau tahulah bagaimana rasanya
kalau mulai mengharapkan sesuatu yang sangat
kauinginkan. Kau akan nyaris bertarung dengan
harapan itu karena terlalu indah untuk menjadi
kenyataan, karena kau telah begitu sering kecewa
sebelumnya. Itulah yang Digory rasakan.
Tapi tidak ada gunanya berusaha bergumul
dengan harapan ini. Karena mungkin—mungkin
saja benar-benar bisa jadi kenyataan. Telah
begitu banyak hal aneh yang terjadi. Dan dia
punya cincin-cincin ajaib. Pasti ada dunia-dunia
yang bisa dia datangi lewat setiap mata air di
hutan itu. Dia bisa menjelajahi dan berburu
obat di sana. Kemudian—lbu akan sehat lagi.
Segalanya akan benar kembali. Digory sama
sekali lupa mengawasi sang penyihir. Tangannya
sudah mulai bergerak ke saku tempat dia menyimpan
cincin kuning, ketika mendadak terdengar
suara derap langkah kuda.
Wah! Apa itu? pikir Digory. Pasukan pemadam
kebakaran? Kira-kira rumah mana yang
128
terbakar ya? Astaga, suaranya menuju ke arah
sini. Ya ampun, itu kan dia.
Aku tidak perlu memberitahumu siapa yang
Digory maksudkan dengan dia.
Pertama tampaklah kereta sewaan. Tidak
ada siapa-siapa di kursi sais. Di atapnya—
tidak duduk, tapi berdiri di atasnya—berayun
dengan keseimbangan tubuh luar biasa, ketika
kereta melaju dengan kecepatan penuh di sudut
jalan dengan satu roda di udara—tampak sosok
Jadis sang ratunya ratu dan Teror Charn.
Giginya penuh terlihat, matanya bersinar layaknya
api, dan rambut panjangnya melambai di
belakangnya seperti ekor komet. Dia memecut
kuda tanpa belas kasihan. Lubang hidung hewan
itu lebar dan merah, sisi-sisinya dikotori
buih putih. Kuda itu berlari kencang menuju
pintu depan, melewati lampu tiang dengan
jarak hanya seinci, kemudian berdiri dengan
kaki belakangnya. Kereta yang ditariknya menabrak
lampu tiang dan hancur menjadi beberapa
bagian. Sang penyihir, dengan lompatan
menakjubkan, telah menghindar tepat pada
waktunya dan mendarat di punggung kuda.
Dia memperbaiki posisi menunggangnya dan
mencondongkan tubuh ke depan, membisikkan
sesuatu pada telinga kuda itu.
129
130
Bisikan itu pastinya tidak dimaksudkan untuk
menenangkan tapi untuk membuatnya makin
gila. Kuda itu berdiri dengan kaki belakang
lagi dan ringkikannya seperti jeritan. Kuda itu
meronta, meringkik, mengibas-ngibaskan kepala.
Hanya pengendara luar biasa yang bisa tetap
berada di punggungnya.
Sebelum Digory menenangkan napas, cukup
banyak hal lain mulai terjadi. Kereta kedua
bergerak cepat, dekat di belakang kereta yang
pertama. Keluar dari dalamnya pria gemuk
bermantel panjang dan seorang polisi. Kemudian
datang kereta ketiga dengan dua polisi
lagi di dalamnya. Setelah itu datang sekitar
dua puluh orang (sebagian besar anak laki-laki
petugas penyampai pesan) bersepeda, semuanya
membunyikan bel sepeda dan menyuarakan
sorakan juga siulan. Terakhir datang rombongan
orang berjalan kaki: semua tampak
terengah-engah karena habis berlari, tapi tampak
jelas sangat menikmati kejadian ini. Jendela-
jendela menjeblak terbuka di semua rumah
di jalan itu dan pelayan wanita maupun pria
muncul di setiap pintu depan. Mereka ingin
melihat keramaian ini.
Sementara itu seorang pria tua berusaha
keluar dari kereta kuda yang pertama dengan
131
tubuh masih gemetar. Beberapa orang bergegas
menghampiri untuk menolongnya, tapi karena
satu orang menariknya ke satu arah dan orang
yang lain menariknya ke arah lain, mungkin
dia bakal bisa keluar dari kereta itu jauh lebih
cepat bila tanpa bantuan. Digory menebak
pria tua itu mungkin Paman Andrew tapi
wajahnya tidak terlihat. Topi tinggi yang dikenakan
orang itu melesak menutupi wajahnya.
Digory berlari keluar dan bergabung dengan
kerumunan orang.
"Itu wanitanya, itu dia wanitanya," teriak
sang pria gemuk sambil menunjuk Jadis. "Lakukan
tugasmu, Pak Polisi. Perhiasan seharga
ratusan dan ribuan pound telah diambilnya
dari tokoku. Lihatlah rantai mutiara di lehernya.
Itu milikku. Dia bahkan juga meninju mataku."
132
"Itu dia, Pak," kata salah satu orang dalam
kerumunan. "Memar di mata yang paling bagus
yang pernah saya lihat. Pasti diperlukan keahlian
yang luar biasa untuk melakukannya.
Wah! Berarti dia kuat sekali!"
"Sebaiknya Anda mengompres memar itu
dengan daging steak mentah, Mister, itu pengobatan
paling manjur," kata bocah tukang
daging.
"Tenang tenang," kata petugas polisi yang
berpangkat paling tinggi, "ada kekacauan apa
ini?"
"Sudan kubilang dia—" mulai si pria gemuk,
ketika seseorang berteriak:
"Jangan biarkan pria tua di kereta itu melarikan
diri. Dia yang menyuruh si wanita melakukan
semua ini."
Si pria tua, yang kini sudah pasti Paman
133
Andrew, baru saja selesai berhasil berdiri dan
sedang rnenggosok-gosok memarnya. "Kalau
begitu," kata si petugas polisi sambil menoleh
ke arahnya, "apa maksud semua ini?"
"Hmph—pomi—shomf," terdengar suara
Paman Andrew dari balik topi.
"Hentikan sekarang juga," kata si polisi
tegas. "Ini bukan saatnya bergurau. Segera
lepaskan topi itu!"
Permintaan ini lebih mudah dikatakan daripada
dilakukan. Tapi setelah Paman Andrew
bergulat sia-sia dengan topinya selama beberapa
saat, dua polisi lain menahan pinggirannya
dan menarik paksa topi itu.
"Terima kasih, terima kasih," kata Paman
Andrew dengan suara lemas. "Terima kasih.
Astaga, aku benar-benar terguncang. Kalau saja
seseorang bisa memberiku segelas brendi—"
"Saya harap sekarang Anda bersedia berbicara
pada saya," kata sang petugas polisi,
sambil mengeluarkan buku notes yang sangat
besar dan pensil yang sangat kecil. "Apakah
Anda bertanggung jawab atas wanita muda
itu?"
"Awas!" teriak beberapa suara, dan si polisi
melompat ke belakang tepat pada waktunya.
Kuda tadi telah menendang ke arahnya, ten-
134
dangan yang mungkin bisa membunuhnya.
Kemudian sang penyihir mengarahkan kuda
itu supaya berputar sehingga dia bisa menghadap
ke kerumunan orang. Kaki belakang
kuda berada di trotoar. Wanita itu membawa
pisau panjang berkilap di tangannya dan sibuk
membebaskan kuda dari puing-puing kereta.
Sepanjang waktu ini Digory berusaha mencari
posisi supaya dia bisa menyentuh sang penyihir.
Ini tidak mudah karena, di sisi yang paling
dekat dengannya, ada terlalu banyak orang.
Dan untuk memutar menuju sisi yang lain, dia
harus melewati jarak tendangan kuda dan pagar
suatu "area" yang mengelilingi rumahnya. Rumah
keluarga Ketterley punya ruang bawah
tanah. Kalau kau tahu apa pun tentang kuda,
terutama bila kau bisa melihat keadaan kuda
itu pada saat tersebut, kau akan menyadari ini
tindakan yang menggelikan. Digory tahu banyak
tentang kuda, tapi dia merapatkan gigi
dan bersiap berlari cepat segera setelah melihat
kesempatan yang terbuka.
Seorang pria berwajah merah dan mengenakan
topi bulat kini telah berhasil menepis
orang-orang hingga ke bagian depan kerumunan.
"Hei! Pak Polisi," panggilnya, "itu kudaku
135
yang dikendarainya, begitu juga kereta yang
dia buat jadi serpihan kayu."
"Satu-satu, Bapak-bapak, saya mohon satusatu,"
kata si polisi.
"Tapi tidak ada waktu lagi," ucap si kusir
kereta. "Aku lebih mengenal kuda itu dibanding
dirimu. Kuda itu bukan kuda biasa. Ayahnya
kuda pemimpin pasukan di kaveleri. Dan kalau
wanita muda itu terus-menerus membuatnya
kesal, bakal terjadi pembunuhan di sini. Biarkan
aku mendekatinya."
Si petugas polisi jelas-jelas merasa lega karena
punya alasan kuat untuk menjauhi si kuda.
Sang kusir kereta melangkah mendekat, menatap
Jadis, dan berkata tidak dengan nada
yang tidak ramah:
"Sekarang, Missie, biarkan aku memegang
kepalanya, segeralah kau turun. Kau kan seorang
lady, dan kau tidak mau segala kekasaran ini
sampai melukaimu, kan? Kau pastinya mau
pulang, minum segelas teh hangat, dan berbaring
tenang. Kau akan merasa lebih baik setelah
itu." Di saat yang sama dia mengulurkan tangannya
ke kepala si kuda sambil mengucapkan,
"Tenang, Strawberry, teman lama. Tenang ya."
Lalu untuk pertama kalinya sang penyihir
berbicara.
136
"Budak!" terdengar suara dingin dan lantangnya,
berdering keras di atas semua suara lain.
"Budak, jangan sentuh kuda perang kami yang
mulia. Kami Maharani Jadis."
137
HO! Jadi kau Maharani, ya? Kita lihat
saja nanti," kata sebuah suara. Kemudian
suara lain berkata, "Tiga sorakan untuk
Maharatu kota Colney Heath" dan sejumlah
suara lain bergabung. Wajah sang penyihir
menjadi cerah dan dia membungkuk sedikit.
Tapi sorakan itu kemudian mereda dan berganti
menjadi ledakan tawa. Sang penyihir pun menyadari
orang-orang itu hanyalah meledeknya.
Ekspresinya mulai berubah dan dia mengganti
pegangan pisaunya ke tangan kiri. Kemudian,
tanpa diduga-duga, dia melakukan sesuatu yang
begitu mengerikan untuk dilihat. Dengan ringan
dan mudah, seolah tindakan itu tindakan paling
biasa di dunia, dia meluruskan lengan kanannya
dan memutuskan salah satu lengan besi tiang
lampu itu. Kalaupun mungkin dia telah ke-
138
BAB 8
Pertarungan di Lampu Tiang
hilangan sebagian kemampuan sihirnya di dunia
kita, dia belum kehilangan kekuatannya. Dia
bisa mematahkan batang besi seolah benda itu
hanyalah sebatang gula-gula. Dia melemparkan
senjata barunya di udara, menangkapnya lagi,
mengayun-ayunkannya, dan menyuruh kudanya
maju.
"Sekarang kesempatanku," pikir Digory. Dia
buru-buru berjalan ke antara kuda dan pagar
lalu mulai melangkah maju. Kalau saja hewan
itu mau bergeming sebentar saja, dia mungkin
bakal bisa menangkap mata kaki sang penyihir.
Saat bergegas, dia mendengar suara runtuh
yang mengancam dan entakan. Sang penyihir
telah menghantamkan batang besi itu ke helm
kepala polisi, pria itu terjatuh seperti pin bola
boling.
"Cepat, Digory. Ini harus dihentikan," kata
sebuah suara di sampingnya. Ternyata Polly
yang berkata begitu. Gadis kecil itu segera
datang begitu diperbolehkan bangun dari tempat
tidur.
"Kau memang setia," kata Digory. "Berpegang
eratlah padaku. Kau harus menyentuh
cincinmu. Yang kuning, ingat. Dan jangan kaupakai
sebelum aku berteriak."
Terdengar suara hantaman kedua dan satu

139
lagi polisi tergeletak. Terdengar teriakan marah
dari kerumunan, "Hentikan dia. Ambil batu
dari trotoar. Panggil pasukan bersenjata." Tapi
sebagian besar dari mereka berusaha sebisa
mungkin menjauh. Tapi si kusir kereta yang
pastinya orang paling berani dan baik hati di
sana, tetap berada di dekat kudanya, sambil
berkali-kali menunduk menghindari ayunan batang
besi. Dia masih berusaha menangkap kepala
Strawberry.
Kerumunan orang mencemooh dan berteriak
lagi. Sebuah batu berdesing melewati kepala
Digory. Kemudian terdengar suara sang penyihir,
keras dan jelas seperti bel besar, dan
kedengarannya seolah dia hampir bahagia untuk
pertama kalinya.
"Sampah! Kalian akan membayar besar untuk
ini kalau aku sudah menguasai dunia kalian.
Tidak satu pun batu di kota kalian yang
akan tersisa. Aku akan membuat kota ini
seperti Charn, Felinda, Solis, seperti Bramandin."
Digory akhirnya menangkap mata kakinya.
Dia menendang berusaha melepaskan diri dan
memukul mulut Digory. Karena kesakitan, anak
itu melepaskan pegangannya. Bibirnya terluka
dan mulutnya penuh darah. Dari suatu tempat
140
yang sangat dekat, terdengar suara Paman
Andrew dalam semacam teriakan yang bergetar.
"Madam—nona muda—demi Tuhan—kendalikan
dirimu." Digory kembali berusaha mencengkeram
mata kakinya, dan sekali lagi pegangannya
dilepaskan. Semakin banyak orang
yang tergeletak karena ayunan batang besi.
Digory mencoba untuk ketiga kalinya, menangkap
mata kaki sang penyihir, memegangnya
erat-erat, berteriak ke Polly, "Sekarang!" kemudian—
ah, syukurlah. Wajah-wajah marah dan
ketakutan menghilang. Suara-suara marah dan
ketakutan lenyap. Semua kecuali Paman
Andrew. Dekat di samping Digory dalam kegelapan,
suaranya terus melengking, "Oh, oh,
apakah ini halusinasi? Apakah ini akhir zaman?
Aku tidak tahan. Ini tidak adil. Aku tidak
pernah berniat menjadi penyihir. Semua ini
kesalahpahaman. Semua ini salah ibu angkatku,
aku harus protes. Dalam kondisi kesehatanku
yang seperti ini pula. Aku anggota keluarga
Dorsetshire yang terhormat."
Sial! pikir Digory. "Kita tidak bermaksud
membawanya. Bagus, hebat sekali. Kau di sana,
Polly?"
"Ya, aku di sini. Berhentilah berontak."
"Aku tidak berontak," Digory mulai berkata,
141
tapi sebelum bisa berbicara lebih lanjut, kepala
mereka bersentuhan dengan sinar matahari
hijau yang hangat di hutan. Dan ketika mereka
keluar dari mata air, Polly berteriak:
"Oh, lihat! Kita membawa serta kuda tua
itu. Juga Mr Ketterley. Juga si kusir kereta. Ini
kacau sekali!"
Segera setelah menyadari dia sekali lagi berada
di hutan itu, sang penyihir memucat dan
membungkuk hingga wajahnya menyentuh surai
kuda yang dinaikinya. Kau bisa melihat dia
merasa sakit luar biasa. Paman Andrew gemetaran.
Tapi Strawberry, si kuda, menggelenggeleng,
mengeluarkan ringkikan ceria, dan tampak
merasa lebih baik. Hewan itu menjadi
tenang untuk kali pertama sejak Digory melihatnya.
Telinganya yang tadinya terbaring rata
di kepala, kini telah berada di posisi biasa dan
di matanya terlihat semangat.
"Bagus, teman tua," kata si kusir kereta
sambil menepuk-nepuk leher Strawberry. "Begitu
lebih baik. Tenanglah."
Strawberry melakukan tindakan yang sangat
alami di dunia. Karena haus (tidak heran juga
bila dia merasa begitu) dia berjalan perlahan
menuju mata air terdekat dan masuk ke dalamnya
untuk minum. Digory masih memegangi
142
mata kaki sang penyihir dan Polly memegang
tangan Digory. Salah satu tangan kusir kereta
ada pada Strawberry. Dan Paman Andrew,
masih gemetaran, baru saja memegang tangan
kusir kereta yang satu lagi.
"Cepat," kata Polly, dengan wajah penuh
arti ke Digory. "Hijau!"
Jadi si kuda tidak pernah mendapatkan
minumannya. Seluruh rombongan itu malah
mendapati diri mereka tenggelam ke kegelapan.
Strawberry meringkik, Paman Andrew merintih.
Digory berkata, "Tadi kebetulan sekali."
Ada keheningan sesaat. Kemudian Polly berkata,
"Bukankah seharusnya kita sudah sampai
sekarang?"
"Kita memang tampaknya berada di suatu
tempat," kata Digory. "Setidaknya aku berdiri
di atas sesuatu yang padat."
"Wah, setelah dipikir-pikir, aku juga begitu,"
kata Polly. "Tapi kenapa begitu gelap di sini?
Ah, menurutmu kita masuk ke mata air yang
salah?"
"Mungkin ini memang Charn," kata Digory.
"Hanya saja kita kembali saat tengah malam."
"Ini bukan Charn," terdengar suara sang
penyihir. "Ini dunia yang kosong. Ini Tiada."
Dan memang keadaannya seperti Tiada. Ti-
143
dak ada bintang. Suasana begitu gelap sehingga
mereka sama sekali tidak bisa saling melihat
dan tidak ada bedanya apakah kau memejamkan
atau membuka mata. Di bawah kaki mereka
ada sesuatu yang dingin dan datar yang
mungkin saja tanah, tapi jelas tidak ada rumput
atau pohon. Udaranya dingin dan kering, juga
tidak ada angin.
"Kehancuran telah datang ke atasku," kata
sang penyihir dengan suara tenang yang namun
mengerikan.
"Ah, jangan berkata begitu," Paman Andrew
merepet. "Nona muda, kumohon jangan mengatakan
hal-hal seperti itu. Tidak mungkin
seburuk itu keadaannya. Ah—kusir kereta—
pria baik—apakah kebetulan kau membawa
botol berisi minuman keras? Tetesan semangat
itulah yang kita butuhkan."
"Sudahlah, sudahlah," terdengar suara si kusir.
Suaranya tegas dan keras. "Tetaplah tenang,
semua, itulah yang selalu kukatakan. Tidak
ada yang tulangnya patah, kan? Bagus. Yah,
kalau begitu ada sesuatu yang bisa langsung
disyukuri, dan itu lebih daripada yang bisa
diperkirakan siapa pun setelah terjatuh sedalam
ini. Nah, kalau kita terjatuh ke dalam pekerjaan
penggalian atau semacamnya—seseorang
144
akan datang dan segera mengeluarkan kita,
lihat saja! Dan kalau kita sudah mati—yang
tidak kumungkiri bisa saja terjadi—yah, kita
harus mengingat bahwa lebih banyak hal buruk
bisa terjadi di lautan dan seseorang memang
harus mati suatu saat. Tidak ada yang perlu
ditakutkan kalau orang itu telah menjalani
hidup dengan semestinya. Kalau kau bertanya
padaku, kurasa tindakan terbaik yang bisa
kita lakukan untuk melewatkan waktu adalah
menyanyikan himne."
Dan dia benar-benar melakukannya. Dia
langsung menyanyikan himne panen Thanksgiving,
segala syair tentang hasil tanam telah
"dipanen dengan baik". Lagu itu sangat tidak
cocok dengan tempat yang rasanya tidak pernah
ditumbuhi apa pun sejak permulaan waktu,
tapi lagu itulah yang paling bisa diingatnya.
Kusir itu punya suara bagus dan Digory juga
Polly ikut bernyanyi, suasana jadi sangat ceria.
Paman Andrew dan sang penyihir tidak bergabung.
Ketika mendekati akhir himne, Digory merasa
seseorang menarik sikunya. Dan dari bau
brendi juga cerutu yang keras, serta pakaian
mewah yang dikenakan, Digory memutuskan
orang itu pasti Paman Andrew. Paman Andrew
145
menariknya menjauhi yang lain dengan hatihati.
Saat mereka sudah agak jauh, pria tua
itu memajukan bibirnya begitu dekat ke telinga
Digory sehingga terasa menggelitik, lalu dia
berbisik:
"Sekarang, bocah. Pakai cincinmu. Ayo pergi
dari sini."
Tapi sang penyihir punya telinga yang bagus.
"Bodoh!" terdengar suaranya dan dia melompat
turun dari kuda. "Apakah kau lupa aku bisa
mendengar pikiran manusia? Lepaskan anak
itu. Kalau kau berniat berkhianat, aku akan
melakukan balas dendam yang begitu kejam
kepadamu dengan cara yang belum pernah
kaudengar ada di semua dunia sejak awal
zaman."
"Dan," Digory menambahkan, "kalau kau
berpikir aku orang yang jahat sehingga tega
meninggalkan Polly—juga kusir kereta—serta
kudanya—di tempat seperti ini, kau salah besar."
"Kau benar-benar anak kecil yang nakal
dan tidak sopan," kata Paman Andrew.
"Sstt!" kata si kusir kereta. Mereka semua
mendengarkan.
Dalam kegelapan, akhirnya sesuatu terjadi.
Sebuah suara mulai bernyanyi. Suaranya ter-
146
dengar jauh sekali dan Digory mendapati sulit
menentukan dari arah mana datangnya. Terkadang
suara itu seperti datang dari segala
arah sekaligus. Terkadang dia hampir mengira
suara itu keluar dari tanah di bawah mereka.
Nada-nada rendahnya cukup dalam untuk menjadi
suara bumi itu sendiri. Tidak ada katakata.
Bahkan nyaris tidak ada nada. Tapi
suara itu, tak ada bandingannya, suara terindah
yang pernah dia dengar. Begitu indah sehingga
dia nyaris tidak tahan mendengarnya. Si kuda
tampaknya juga menyukai suara itu, hewan
tersebut mengeluarkan semacam ringkikan yang
bakal disuarakan semua kuda jika setelah bertahun-
tahun menjadi kuda kereta sewaan, dia
mendapati dirinya kembali berada di lapangan
luas tempatnya bermain semasa menjadi anak
kuda dulu, melihat seseorang yang diingat dan
dicintainya datang menyeberangi lapangan untuk
membawakan sebongkah gula.
"Wow!" kata si kusir kereta. "Indah sekali,
ya?"
Kemudian dua keajaiban terjadi di saat yang
bersamaan. Salah satunya adalah suara itu
tiba-tiba diikuti suara-suara lain, lebih banyak
suara daripada yang bisa kauhitung. Semua
suara baru itu berpadu harmonis dengan suara
147
pertama, tapi nada-nadanya lebih tinggi: suarasuara
dingin, menggelitik, keperakan. Keajaiban
kedua adalah kekelaman di atas, secara sekaligus,
diterangi bintang-bintang. Bintangbintang
itu tidak keluar perlahan dan satu per
satu, seperti yang biasa terjadi pada suatu
malam di musim panas. Pada suatu detik tidak
ada apa pun di sana kecuali kegelapan, di
detik berikutnya ribuan, ribuan titik cahaya
muncul keluar—bintang-bintang tunggal, konstelasi,
dan planet-planet, lebih terang dan besar
daripada yang ada di dunia kita. Tidak ada
awan. Bintang-bintang baru dan suara-suara
baru itu dimulai pada saat yang bersamaan.
Kalau kau ikut melihat dan mendengarnya,
seperti yang dialami Digory, kau akan merasa
sangat yakin bintang-bintang itulah yang bernyanyi,
dan suara pertamalah, suara yang dalam
tadi, yang membuat bintang-bintang itu
muncul dan bernyanyi.
"Luar biasa!" kata si kusir kereta. "Aku
akan jadi pria yang lebih baik sepanjang hidupku
kalau aku tahu ada yang seperti ini."
Suara di bumi kini semakin keras dan lantang,
tapi suara-suara di langit, setelah bernyanyi
keras bersamanya, mulai melemah. Dan
kini sesuatu yang lain sedang terjadi.
148
Jauh sekali, di bawah kaki langit, langit
mulai berubah warna menjadi abu-abu. Angin
kecil, sangat segar, mulai bertiup. Langit, di
satu tempat itu, perlahan tapi pasti memucat.
Kau bisa melihat sosok-sosok bukit berdiri
hitam membelakanginya. Sepanjang waktu itu
suara terus bernyanyi.
Tak lama kemudian ada cukup cahaya bagi
mereka untuk melihat wajah satu sama lain.
Mulut si kusir dan kedua anak itu terbuka
dan mata mereka bersinar, mereka menyerap
suara luar biasa itu, sepertinya suara tersebut
mengingatkan mereka akan sesuatu. Mulut Paman
Andrew juga terbuka, tapi bukan karena
kagum. Dia tampak seolah dagunya sekadar
terjatuh dari sisa wajahnya yang lain, bahunya
membungkuk dan lututnya gemetaran. Dia
149
tidak menyukai suara itu. Kalau dia bisa
menghindarinya dengan merangkak masuk ke
lubang tikus, dia pasti akan melakukan itu.
Tapi sang penyihir tampak, entah bagaimana,
paling memahami musik itu daripada siapa
pun di sana.
Mulutnya tertutup, bibirnya rapat, dan jemarinya
erat tergenggam. Sejak lagu itu dimulai
dia telah merasa seluruh dunia ini dipenuhi
Sihir yang berbeda dengan miliknya dan lebih
kuat. Dia membenci ini. Dia akan menghancurkan
seluruh dunia ini, atau semua dunia yang
ada, menjadi serpihan-serpihan, kalau tindakan
itu akan bisa menghentikan nyanyian tersebut.
Si kuda berdiri dengan kedua telinga tegak
dan berkedut-kedut. Sesekali hewan itu mendengus
dan mengentakkan kaki ke tanah. Dia
tidak lagi kelihatan seperti kuda kereta sewaan
yang tua dan lelah, sekarang kau bisa amat
percaya ayahnya pernah memimpin pertempuran.
Langit timur berubah dari putih ke merah
muda, dan dari merah muda ke emas. Suara itu
naik dan naik, sampai seluruh udara bergetar
bersamanya. Dan ketika suara itu berkembang
menjadi suara paling kuat dan mulia yang
pernah diperdengarkan, sang mentari terbit.
150
Digory belum pernah melihat matahari seperti
itu. Matahari di atas reruntuhan Charn tampak
lebih tua daripada matahari dunia kita, yang
ini tampak lebih muda. Kau bisa membayangkan
matahari itu tertawa bahagia saat terus
naik di langit. Dan ketika sinarnya menerangi
daratan, para penjelajah itu bisa melihat untuk
kali pertama tempat apa yang mereka kunjungi.
Sebuah lembah yang dibelah sungai lebar, deras,
dan mengalir ke timur menuju mentari. Di
sebelah selatan ada pegunungan, di sebelah
utara ada perbukitan yang lebih rendah. Tapi
lembah itu hanya terdiri atas tanah, batu, dan
air. Tidak ada pohon, sesemakan, tidak sebatang
rumput pun yang terlihat. Tanahnya terdiri
atas banyak warna: segar, panas, dan tegas.
Tanahnya membuat kau merasa bersemangat,
sampai kau melihat si penyanyi itu sendiri,
setelahnya kau akan melupakan segalanya.
Si penyanyi adalah singa. Besar, berbulu lebat,
dan bercahaya, hewan itu berdiri menghadap
matahari terbit. Mulutnya terbuka lebar
menyanyikan lagu dan dia berdiri sekitar tiga
ratus meter jauhnya.
"Ini dunia yang mengerikan," kata sang
penyihir. "Kita harus segera pergi. Siapkan
Sihir."
151
"Aku setuju denganmu, Madam," kata Paman
Andrew. "Tempat yang sangat tidak raenyenangkan.
Sama sekali tidak beradab. Kalau
saja aku lebih muda dan membawa senjata—"
"Astaga!" seru si kusir kereta. "Kau tidak
berpikir untuk menembaknya, kan?"
"Lagi pula siapa yang bisa berpikir begitu?"
kata Polly.
"Siapkan Sihir, pria tua bodoh," kata Jadis.
"Tentu saja, Madam," kata Paman Andrew
licik. "Aku harus membiarkan kedua anak ini
menyentuhku. Pakai cincin pulangmu segera,
Digory." Dia ingin pergi tanpa sang penyihir.
"Oh, jadi sihirmu cincin, ya?" teriak Jadis.
Dia bakal memasukkan tangannya ke saku
Digory sebelum kau bisa mengucapkan apa
pun, tapi Digory menarik Polly dan berseru:
"Awas. Kalau salah satu dari kalian bahkan
mendekat barang seinci pun, kami berdua akan
menghilang dan kalian akan ditinggalkan di
sini untuk selama-lamanya. Ya, aku punya
cincin di sakuku yang bisa membawaku dan
Polly pulang. Dan lihat! Tanganku siap meraihnya.
Jadi jaga jarak kalian. Aku menyesal
dengan nasibmu," (dia melihat ke arah kusir
kereta) "dan kudamu, tapi tak ada yang bisa
kulakukan. Sedangkan kalian berdua," (dia me-
152
natap Paman Andrew dan sang ratu) "kalian
berdua kan penyihir, jadi kalian pasti bahagia
hidup bersama."
"Tahan suara kalian, semuanya," kata si
kusir. "Aku ingin mendengarkan musiknya."
Karena kini lagu telah berubah.
153
SANG SINGA berderap maju dan mundur
di daratan kosong itu sambil menyanyikan
lagu barunya. Kali ini lebih halus dan bernada
daripada lagu yang dia gunakan untuk memanggil
bintang dan matahari. Musiknya lembut
dan mengalir. Dan saat dia berjalan sambil
bernyanyi, lembah menghijau karena rumput.
Rumput mengalir dari si singa seperti mata
air. Rumput menyapu sisi-sisi bukit seperti ombak.
Dalam beberapa menit rumput merayapi
lereng-lereng rendah pegunungan yang jauh,
membuat dunia baru itu lebih lembut setiap
saat. Angin sepoi bisa didengar menggemeresikkan
rerumputan. Tak lama kemudian ada benda
lain selain rumput. Lereng-lereng tinggi menggelap
karena sesemakan heather. Bongkahan
tumbuhan yang lebih kasar dan berperdu mun-
154
Membangkitkan Narnia
BAB 9
cul di lembah. Digory tidak tahu apa tumbuhan
itu sampai salah satunya mulai tumbuh di
dekatnya. Tumbuhan itu kecil dan berpakupaku,
lusinan batangnya mencuat keluar, ditutupi
daun, dan tumbuh semakin besar sekitar
satu inci setiap dua detik. Ada lusinan tumbuhan
ini di sekelilingnya sekarang. Ketika
tumbuhan-tumbuhan itu nyaris setinggi tubuhnya,
Digory melihat apa sebenarnya bendabenda
tersebut. "Pohon!" dia berseru.
Yang menyebalkan, seperti yang Polly katakan
setelah itu, adalah kau tidak dibiarkan
dalam ketenangan untuk memerhatikan kejadian
ini. Tepat setelah Digory berkata, "Pohon!"
dia harus melompat karena Paman Andrew
telah menyelinap ke dekatnya lagi dan berniat
mencopet isi sakunya. Tindakan ini sebenarnya
tidak akan membantu Paman Andrew kalaupun
dia berhasil, karena pria itu mengincar saku
tangan kanan. Dia masih mengira cincin hijau
adalah cincin "pulang". Tapi tentu saja Digory
tidak mau kehilangan cincin itu juga.
"Stop!" teriak sang penyihir. "Mundur. Tidak,
lebih jauh lagi. Kalau ada yang bahkan
berdiri sejauh sepuluh langkah dari satu pun
anak itu, aku akan memecahkan kepalanya."
Dia mengacungkan batang besi yang telah di-
155
patahkan dari lampu tiang di tangannya, siap
melempar. Entah bagaimana tidak ada yang
ragu dia bakal melempar tepat sasaran.
"Jadi!" katanya lagi. "Kau berniat kabur ke
duniamu sendiri dengan anak itu dan meninggalkanku
di sini."
Emosi Paman Andrew akhirnya menguasai
rasa takutnya. "Ya, Ma'am, aku memang berniat
begitu," katanya. "Tentu saja aku berniat
begitu. Lagi pula ini hakku. Aku telah dipermalukan
dan diperlakukan dengan kejam. Aku
telah sebisanya berusaha menunjukkan sopan
santun. Dan apa balasanku? Kau telah merampok—
aku harus mengulang kata ini—merampok
toko perhiasan yang sangat terkenal. Kau
telah bersikeras supaya aku menghiburmu dengan
makan siang yang amat sangat mahal,
belum lagi mewah, walaupun aku jadi terpaksa
menggadaikan jam dan rantaiku untuk melakukan
itu (dan biar kuberitahu saja ya, Ma'am,
tidak seorang pun dari keluarga kami yang
punya kebiasaan mengunjungi toko pegadaian,
kecuali sepupuku Edward, dan dia berada di
Yeonmary). Selama santapan yang tak bisa
dicerna itu—aku merasakan pengaruhnya yang
terburuk tepat pada saat ini—perilaku dan
percakapanmu menarik perhatian yang tidak
156
diinginkan dari semua orang yang ada di sana.
Aku merasa telah dipermalukan secara publik.
Aku tidak akan bisa menunjukkan wajahku di
restoran itu lagi. Kau telah menyerang petugas
polisi. Kau telah mencuri—"
"Oh, diamlah, pria tua, kumohon diamlah,"
kata kusir kereta. "Lebih baik melihat dan
mendengar yang sedang terjadi sekarang. Jangan
bicara."
Dan memang banyak yang bisa dilihat dan
didengar saat itu. Pohon yang telah diperhatikan
Digory kini sudah tumbuh menjadi pohon
beech dewasa yang cabang-cabangnya berayun
lembut di atas kepala anak itu. Mereka kini
berdiri di atas rumput hijau sejuk yang dihiasi
bunga daisy dan buttercup. Lebih jauh sedikit,
di sepanjang tepi sungai, pohon willow tumbuh.
Di sisi lain bermunculan bunga-bunga currant,
lilac, mawar liar yang tumbuh saling melilit,
dan dipagari sesemakan rhododendron. Si kuda
mencabik sejumput rumput segar yang lezat.
Sepanjang waktu itu lagu terus berlanjut
dan sang singa bergerak anggun, mondarmandir,
berjalan maju-mundur. Yang agak
mengancam adalah pada setiap belokan dia
kian mendekat. Polly mendapati lagu itu menjadi
semakin menarik karena dia pikir dia
157
mulai bisa melihat hubungan antara musik itu
dan berbagai hal yang sedang terjadi. Ketika
sederet pohon fir gelap muncul pada tebing
sekitar seratus meter dari mereka, dia merasa
pohon-pohon fir itu berhubungan dengan seseri
nada dalam dan panjang yang dinyanyikan
sang singa sedetik lalu. Dan ketika dia menyuarakan
satu deret nada cepat yang lebih
ringan, Polly tidak terkejut melihat tumbuhan
primroses mendadak muncul di setiap arah.
Kemudian dengan rasa gembira yang tidak
terkatakan, dia merasa sangat yakin semua
benda itu (menggunakan istilahnya) "keluar
dari kepala sang singa". Kalau kau menyimak
lagunya, kau akan mendengar benda-benda
158
yang sedang dibuatnya, saat melihat ke sekelilingmu
kau akan melihat semua itu. Pengalaman
ini begitu menarik sehingga Polly tidak
punya waktu untuk merasa takut. Tapi Digory
dan si kusir kereta tidak bisa mencegah diri
mereka merasa agak gugup karena setiap belokan
membuat sang singa semakin dekat dengan
mereka. Sedangkan Paman Andrew, giginya
bergemeletuk, tapi lutut kakinya gemetaran
hebat sehingga dia tidak bisa melarikan diri.
Mendadak sang penyihir melangkah berani
menuju sang singa. Hewan itu berjalan mendekat,
masih sambil bernyanyi, dengan langkah
lambat dan berat. Kini dia hanya dua belas
meter jauhnya. Sang penyihir mengangkat tangannya
dan mengayunkan batang besi itu
langsung ke kepala si singa.
Tidak ada seorang pun, apalagi Jadis, yang
bakal luput mengenai sasaran pada jarak itu.
Batang besi itu menghantam sang singa tepat
di antara kedua matanya. Besinya mental dan
jatuh berdebum di rerumputan. Sang singa
terus berjalan. Langkahnya tidaklah lebih lambat
ataupun lebih cepat daripada sebelumnya,
kau bakal tidak bisa menebak apakah dia
bahkan menyadari dia sudah terkena pukulan.
Walaupun langkah-langkah lembutnya tidak
159
membuat suara, kau bisa merasakan bumi bergetar
di bawah tekanan beratnya.
Sang penyihir memekik dan lari, dalam beberapa
detik kemudian dia menghilang di
antara pepohonan. Paman Andrew berbalik
untuk melakukan hal yang sama, tersandung
akar, terjatuh dan mendarat dengan wajahnya
di aliran sungai kecil yang mengalir menuju
sungai besar. Digory dan Polly tidak bisa bergerak.
Mereka bahkan tidak yakin mereka
ingin melakukan itu. Sang singa tidak mengacuhkan
mereka. Mulut besar merahnya terbuka,
tapi untuk menyuarakan lagu, bukan
untuk menunjukkan seringaian. Hewan itu melewati
mereka begitu dekat sehingga mereka
bisa saja menyentuh surainya. Mereka takut
sekali sang singa akan menoleh dan menatap
mereka, namun anehnya mereka juga berharap
dia melakukan itu. Tapi bila melihat besarnya
perhatian yang dia berikan kepada Digory dan
Polly, mereka seolah tidak kasat mata dan
tidak berbau. Ketika lewat dan berjalan beberapa
langkah menjauhi mereka, sang singa
berbelok, melewati mereka lagi, lalu melanjutkan
langkahnya ke arah timur.
Paman Andrew berusaha berdiri sambil terbatuk-
batuk dan megap-megap.
160
"Nah, Digory," katanya, "kita telah menyingkirkan
wanita itu, singa ganas itu juga sudah
pergi. Ulurkan tanganmu dan pakai cincinmu
segera."
"Jangan sentuh aku," kata Digory, berjalan
mundur menjauhinya. "Menyingkirlah darinya,
Polly. Mendekatlah ke sini. Aku memperingatkanmu,
Paman Andrew, jangan mendekat barang
selangkah pun, atau kami akan menghilang."
"Lakukan yang sudah kuperintahkan kepadamu,
Sir," kata Paman Andrew. "Kau benarbenar
anak kecil yang sangat tidak patuh dan
luar biasa bandel."
"Jangan takut," kata Digory. "Kami ingin
tinggal dan melihat apa yang terjadi. Lagi
pula bukankah kau ingin tahu tentang duniadunia
lain? Tidakkah kau bahagia akhirnya
bisa berada di sini?"
"Bahagia!" seru Paman Andrew. "Lihat saja
keadaanku sekarang. Dan ini jas juga rompi
terbaikku." Paman Andrew memang pemandangan
yang menyedihkan saat ini. Karena
tentu saja, semakin rapi kau pada awalnya,
semakin buruk penampilanmu setelah kau merangkak
keluar dari kereta sewaan yang luluh
lantak dan terjatuh ke dalam sungai kecil
161
berlumpur. "Bukannya aku berkata," dia menambahkan,
"tempat ini sama sekali tidak menarik.
Kalau aku pria yang lebih muda, beda
lagi—mungkin aku akan menyuruh pemudapemuda
bersemangat untuk pergi lebih dulu
ke sini. Sejenis pemburu-pemburu profesional
itu. Sesuatu mungkin bisa diusahakan di negeri
ini. Cuacanya menyenangkan sekali. Aku belum
pernah merasakan udara seperti ini. Aku yakin
udara seperti ini akan berakibat baik buatku
jika—jika saja keadaannya lebih menguntungkan.
Kalau saja aku membawa senjata."
"Senjata tidak ada gunanya," kata si kusir
kereta. "Kurasa aku akan pergi dan melihat
apakah aku bisa menggosok tubuh Strawberry.
Kuda itu lebih punya akal sehat daripada
beberapa manusia yang bisa kusebutkan." Dia
berjalan menghampiri Strawberry dan mulai
mengeluarkan suara berdesis yang biasa disuarakan
tukang kuda.
"Kau masih berpikir singa itu bisa dibunuh
dengan senjata?" tanya Digory. "Dia tidak
terlalu memedulikan pukulan batang besi Jadis."
"Dari semua kesalahannya," kata Paman
Andrew, "itu tindakan yang paling berani,
anakku. Benar-benar tindakan yang penuh nyali."
Dia menggosok-gosokkan kedua tangannya
162
dan meregangkan buku-buku jari, seolah sekali
lagi dia lupa betapa sang penyihir membuatnya
takut setiap kali wanita itu benar-benar berada
di dekatnya.
"Itu tindakan kejam," kata Polly. "Kejahatan
apa yang telah singa itu lakukan padanya?"
"Wah! Apa itu?" tanya Digory. Dia bergegas
memeriksa sesuatu yang berada hanya beberapa
meter di depannya. "Astaga, Polly," dia berteriak
ke belakang. "Cepat ke sini dan lihat."
Paman Andrew datang bersama Polly, bukan
karena dia juga ingin melihat, tapi karena
ingin tetap berada di dekat kedua anak itu—
mungkin ada kesempatan baginya untuk mencuri
cincin-cincin mereka. Tapi ketika melihat
apa yang diperhatikan Digory, minatnya pun
mulai tergugah. Benda itu model kecil sempurna
lampu tiang, tingginya sekitar satu meter tapi
semakin panjang dan tebal saat mereka mengawasinya.
Bahkan lampu tiang pun tumbuh
seperti pepohonan tadi.
"Lampu ini juga hidup—maksudku, lampunya
menyala," kata Digory. Dan memang benar
begitu, walau tentu saja terangnya sinar matahari
membuat api kecil di dalam lenteranya
sulit dilihat kecuali ketika ada bayangan yang
menutupinya.
163
"Menakjubkan, menakjubkan sekali," gumam
Paman Andrew. "Bahkan aku tidak pernah
memimpikan Sihir seperti ini. Kita berada di
dunia di mana segalanya, bahkan lampu tiang,
menjadi hidup dan bertumbuh. Sekarang aku
jadi ingin tahu bibit macam apa lampu tiang
berasal?"
"Tidakkah kau sadar?" tanya Digory. "Di
sinilah batang besi tadi jatuh—batang besi yang
dipatahkan Jadis dari lampu tiang di rumah
kita. Batang itu tenggelam ke dalam tanah
dan kini dia tumbuh menjadi lampu tiang
muda." (Tapi tidak terlalu muda lagi sekarang,
karena saat Digory mengucapkan ini kini lampu
tiang tersebut sudah setinggi anak itu.)
"Benar juga! Luar biasa, luar biasa," kata
Paman Andrew, menggosok tangannya lebih
keras daripada kapan pun. "Ho ho! Mereka
telah menertawakan Sihir-ku. Kakak perempuan
bodohku itu menganggapku gila. Kira-kira apa
yang akan mereka katakan sekarang? Aku telah
menemukan dunia di mana segalanya muncul
penuh kehidupan dan pertumbuhan. Columbus,
ya mereka selalu membicarakan Columbus. Tapi
apalah Amerika dibandingkan ini? Kemungkinan
perdagangan dalam negeri ini tidak terbatas.
Bawa beberapa bagian kecil besi tua ke
164
sini, tanam, dan semuanya akan muncul kembali
sebagai mesin-mesin kereta baru, kapal
perang, apa pun yang kauinginkan. Tanpa mengeluarkan
biaya sepeser pun, dan aku bisa
menjualnya dengan harga penuh di Inggris.
Aku akan jadi jutawan. Kemudian iklim di
sini! Belum-belum aku sudah merasa lebih
muda. Aku bisa menjadikan tempat ini sebagai
tempat pemulihan kesehatan. Sanatorium yang
bagus di sini mungkin bisa berharga dua puluh
ribu setahun. Tentu saja aku jadi harus membiarkan
beberapa orang tahu rahasia dunia
lain ini. Tapi hal pertama yang harus dilakukan
adalah menembak si singa."
"Kau sama saja dengan sang penyihir," kata
Polly. "Yang kalian pikirkan hanyalah bagaimana
cara membunuh makhluk lain."
"Kemudian untuk keuntungan pribadiku,"
Paman Andrew melanjutkan mimpi bahagianya,
"tidak ada yang bisa memastikan berapa lama
aku bisa hidup bila aku menetap di sini. Dan
ini pertimbangan penting kalau seseorang telah
mencapai usia enam puluh tahun. Aku tidak
akan terkejut bila aku tidak pernah menua
barang sehari pun di negeri ini! Luar biasa!
Tanah Kebeliaan!"
"Oh!" seru Digory. "Tanah Kebeliaan! Apa-
165
kah menurutmu tempat ini benar-benar Tanah
Kebeliaan?" Karena tentu saja dia ingat katakata
Bibi Letty kepada wanita yang membawakan
mereka anggur. Harapan manis itu pun
kembali mengaliri tubuhnya. "Paman Andrew,"
katanya, "apakah menurutku ada sesuatu di
sini yang bisa menyembuhkan Ibu?"
"Kau ini sedang bicara apa?" tanya Paman
Andrew. "Tempat ini kan bukan toko obat.
Tapi seperti yang kukatakan tadi—"
"Kau tidak sedikit pun peduli padanya,"
bentak Digory. "Kukira kau akan peduli, karena
bagaimana pun selain ibuku dia juga
saudaramu. Yah, tidak masalah. Lebih baik
aku bertanya pada sang singa sendiri, siapa
tahu dia bisa menolongku." Lalu Digory berbalik
dan berjalan cepat menjauhi yang lain.
Polly menunggu sebentar kemudian mengejarnya.
"Hei! Stop! Kembali! Anak itu sudah gila,"
kata Paman Andrew. Dia mengikuti kedua anak
itu dengan jarak aman di belakang mereka,
karena dia tidak mau berada terlalu jauh dari
cincin hijau dan tidak mau terlalu dekat dengan
sang singa.
Dalam beberapa menit, Digory tiba di ujung
hutan dan dia berhenti di sana. Sang singa
166
masih bernyanyi. Tapi kini lagunya sekali lagi
berganti. Lagunya kini lebih terdengar seperti
yang biasa kita sebut nada, tapi juga jauh
lebih liar. Suaranya membuatmu ingin berlari,
melompat, dan memanjat. Membuatmu ingin
berteriak. Membuatmu ingin segera menghampiri
orang lain lalu memeluk atau berkelahi
dengan orang itu. Lagunya membuat wajah
Digory merah dan panas. Lagu itu juga memengaruhi
Paman Andrew karena Digory bisa
mendengarnya berkata, "Wanita yang penuh
semangat, Sir. Sayangnya dia tidak bisa mengendalikan
emosi, tapi tetap saja dia wanita yang
cantik sekali, cantik luar biasa." Tapi pengaruh
lagu sang singa pada kedua manusia itu tidak
ada apa-apanya dibandingkan pengaruhnya
pada negeri tersebut.
Bisakah kau membayangkan sebidang tanah
berumput menggelegak seperti air dalam panci?
Karena itulah deskripsi paling tepat untuk
menggambarkan apa yang sedang terjadi. Dari
segala arah daratan menggembung menjadi gundukan.
Gundukan-gundukan itu berbeda
ukurannya, beberapa tidak lebih besar daripada
bukit tikus tanah, beberapa sebesar gerobak
berkebun, dua sebesar rumah peristirahatan.
Dan gundukan-gundukan itu bergerak dan
167
membengkak hingga meledak, reruntuhan tanah
tumpah keluar dan dari tiap
gundukan muncul seekor hewan.
Tikus tanah-tikus tanah keluar
dari tanah tepat seperti yang
biasa mereka lakukan di Inggris.
Anjing-anjing muncul, menggonggong begitu
kepala mereka bebas, kemudian bergulat seperti
yang biasa kaulihat mereka lakukan ketika
berusaha melewati lubang sempit di pagar.
Rusa-rusa jantan adalah pemandangan yang
paling aneh, karena tentu saja tanduk mereka
muncul jauh lebih dahulu daripada sisa tubuh
mereka, jadi awalnya Digory mengira mereka
pepohonan. Katak-katak, yang semuanya muncul
di dekat sungai, langsung menuju ke dalamnya
bersama suara plop-plop dan korekan
keras. Macam kumbang, macan tutul, dan
168
hewan sejenisnya, langsung duduk untuk membersihkan
sisa-sisa tanah dari bokong mereka
kemudian berdiri di depan pohon untuk mengasah
cakar-cakar depan mereka. Hujan burung
keluar dari pepohonan. Sekelompok kupu-kupu
beterbangan. Para lebah pergi
bekerja pada bunga-bunga
seolah mereka tidak mau
membuang waktu.
Tapi momen terhebat di antara semuanya
adalah ketika gundukan terbesar membelah seperti
gempa bumi kecil dan keluar dari dalamnya
punggung curam, kepala besar dan bijak,
lalu empat kaki berkulit longgar seekor gajah.
Dan kini kau nyaris tidak bisa mendengar
nyanyian sang singa. Terlalu banyak kaokan,
kukukan, embikan, ringkikan, lolongan, gonggongan,
lenguhan, erangan, dan terompet belalai.
169
Tapi walaupun tidak lagi bisa mendengar
suara sang singa, Digory masih bisa melihatnya.
Hewan itu begitu besar dan bersinar sehingga
dia tidak bisa mengalihkan pandangan darinya.
Hewan-hewan lain tidak tampak takut padanya.
Bahkan tepat pada saat itu, Digory mendengar
suara derap kaki dari belakang, dan tak berapa
lama kemudian kuda tua kereta sewaan berlari
melewatinya dan bergabung dengan hewanhewan
lain. (Udara di negeri itu tampaknya
cocok baginya seperti kepada Paman Andrew.
Dia tidak lagi kelihatan bagaikan budak tua
yang malang seperti dulu di London. Kakinya
terangkat mantap dan kepalanya mendongak
tegak.) Dan kini, untuk pertama kalinya sang
singa diam. Dia berjalan mondar-mandir di
antara hewan-hewan.
Dan sesekali dia akan menghampiri dua ekor
di setiap jenis hewan (selalu dua sekaligus)
dan menyentuh hidung mereka dengan hidungnya.
Dia akan menyentuh dua berang-berang
di antara semua berang-berang, dua macan
tutul di antara semua macan tutul, satu rusa
jantan dan satu rusa betina di antara rusarusa,
dan tidak mengacuhkan sisanya. Beberapa
jenis hewan dilewatinya. Tapi pasangan yang
telah disentuhnya langsung meninggalkan
170
teman-teman sebangsa mereka dan mengikutinya.
Akhirnya sang singa berdiri diam dan semua
makhluk yang telah dia sentuh datang dan
berdiri membentuk lingkaran besar mengelilinginya.
Hewan-hewan lain yang tidak disentuhnya
mulai berjalan pergi. Suara-suara mereka perlahan
menghilang diteian jarak. Para hewan
pilihan yang tertinggal, kini tidak bersuara
sama sekali, semua mata mereka terpaku lekat
pada sang singa. Para hewan sejenis kucing
terkadang menggerakkan ekor mereka, tapi selain
itu semua bergeming. Untuk pertama kalinya
di hari itu yang ada hanyalah keheningan
total, yang terdengar cuma suara aliran air.
Jantung Digory berdetak kencang, dia tahu
sesuatu yang sangat penting akan terjadi. Sesaat
171
dia lupa tentang ibunya, tapi dia sangat tahu
dia tidak bisa mengganggu sesuatu yang sepenting
ini, bahkan demi ibunya.
Sang singa, yang matanya tidak pernah berkedip,
menatap para hewan begitu tegas seolah
dia hendak membakar mereka hanya dengan
pandangan. Dan akhirnya suatu perubahan terjadi
pada diri mereka. Hewan-hewan yang
kecil—kelinci, tikus tanah, dan sejenisnya—
tumbuh menjadi lebih besar. Hewan-hewan
yang sangat besar—kau akan paling menyadarinya
pada gajah-gajah—mengecil. Banyak hewan
yang duduk pada kaki belakang mereka. Sebagian
besar meletakkan kepalanya ke salah
satu sisi, seolah mereka berusaha keras memahami
sesuatu. Sang singa membuka mulutnya,
tapi tak ada suara keluar dari dalam sana.
Dia mengembuskan napas panjang dan hangat
yang seolah menyapu semua hewan seperti
angin menyapu deretan pohon. Jauh di atas,
di balik lapisan langit biru yang menutupi,
bintang-bintang bernyanyi lagi: musiknya murni,
dingin, dan sulit. Kemudian datanglah kilatan
cepat seperti api (tapi kilat itu tidak membakar
siapa pun) entah dari langit atau dari sang
singa sendiri. Lalu setiap tetes darah dalam
tubuh kedua anak itu tergelitik ketika suara
172
yang paling dalam dan liar yang pernah mereka
dengar berkata:
"Narnia, Narnia, Narnia, bangkidah. Cintai.
Pikir. Bicara. Jadilah pohon-pohon yang berjalan.
Jadilah hewan-hewan yang bicara. Jadilah
air yang mulia."
173

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar