Rabu, 30 Juni 2010

keponakan penyihir "narnia



KEPONAKAN PENYIHIR
a
MR. Collection's
KEPONAKAN PENYIHIR
C.S. Lewis
Ilustrasi oleh Pauline Baynes
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, 2005
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com
a
THE CHRONICLES OF NARNIA
#1 THE MAGICIAN'S NEPHEW
Copyright © CS Lewis Pte Ltd 1955, 1950, 1954,
1951, 1952, 1953, 1956
Inside illustrations by Pauline Baynes, copyright © CS Lewis Pte Ltd
1955, 1950, 1954, 1951, 1952, 1953, 1956
Cover art by Cliff Nielsen, copyright © CS Lewis Pte Ltd 2002
The Chronicles of Narnia®, Narnia® and all book titles, characters
and locales original to The Chronicles of Narnia,
are trademarks of CS Lewis Pte Ltd
Use without permission is strictly prohibited
Published by PT Gramedia Pustaka Utama under license from
the CS Lewis Company Ltd
All rights reserved
www.narnia.com
THE CHRONICLES OF NARNIA
#1 KEPONAKAN PENYIHIR
Alih Bahasa: Indah S. Pratidina
GM 106 05 008
Hak Cipta Terjemahan Indonesia:
PT Gramedia Pustaka Utama
Jl. Palmerah Barat '33-37
Jakarta 10270
Diterbitkan pertama kali oleh
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,
Anggota IKAPI,
Jakarta, Juni 2005
Cetakan kedua: September 2005
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
LEWIS, C.S.
THE CHRONICLES OF NARNIA: KEPONAKAN PENYIHIR/
C.S. Lewis; alih bahasa: Indah S. Pratidina, Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2005
280 hlm; ilustrasi; 18 cm
Judul asli: THE CHRONICLES OF NARNIA:
THE MAGICIAN'S NEPHEW
ISBN 979-22-1457-7
I. Judul II. Pratidina, Indah S.
Dicetak oleh PT SUN, Jakarta
Isi di luar tanggung jawab percetakan
Kepada Keluarga Kilmer
Untuk KMR, yang slalu menjadi inspirasiku
a
DAFTAR ISI
1. Pintu yang Salah
2. Digory dan Pamannya 29
3. Hutan di Antara Dunia-Dunia 47
4. Bel dan Palu 64
5. Kata Kemalangan 83
6. Awal Segala Kesusahan
Paman Andrew 101
7. Yang Terjadi di Pintu Depan 119
8. Pertarungan di Lampu Tiang 138
9. Membangkitkan Narnia 154
10. Lelucon Pertama dan Hal-hal Lain 174
11. Digory dan Pamannya
Sama-sama dalam Kesulitan 192
12. Petualangan Strawberry 209
13. Pertemuan Tak Terduga 228
14. Penanaman Pohon 246
15. Akhir Kisah Ini
dan Awal Kisah-kisah Lain 262
9
INI kisah tentang sesuatu yang terjadi dulu
sekali ketika kakek-nenekmu masih kanakkanak.
Kisah ini penting karena mengungkapkan
bagaimana pertama kali dimulainya berbagai
hal bisa keluar-masuk dari dunia kita sendiri
ke tanah Narnia.
Di masa-masa itu, Mr Sherlock Holmes masih
tinggal di Baker Street dan keluarga Bastable
masih mencari harta terpendam di Lewinsham
Road. Di masa-masa itu, kalau kau anak lakilaki
kau harus mengenakan kerah Eton yang
kaku setiap hari, dan sekolah-sekolah biasanya
lebih kejam daripada sekarang. Tapi makananmakanannya
lebih lezat, dan kalau bicara soal
permen-permennya, aku tidak akan bilang padamu
betapa murah dan nikmat semua jenisnya,
karena itu hanya akan membuat air liurmu
9
BAB 1
Pintu yang Salah
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection's
menetes percuma. Dan di masa-masa itu, hiduplah
di London anak perempuan bernama Polly
Plummer.
Dia tinggal di salah satu rumah di deretan
panjang rumah yang berdempetan. Di suatu
pagi, dia sedang berada di kebun belakang
ketika seorang anak laki-laki datang berlari
dari kebun sebelah dan meletakkan kepalanya
di atas pagar tembok. Polly sangatlah terkejut
karena hingga saat ini belum pernah ada anakanak
di rumah itu, hanya Mr Ketterly dan
Miss Ketterley, kakak-beradik, perjaka tua dan
perawan tua, tinggal bersama. Jadi Polly mendongak,
penuh rasa ingin tahu. Wajah anak
laki-laki asing itu sangat kotor. Nyaris tidak
akan bisa lebih kotor lagi bila dia menggosokkan
tangan ke tanah dulu, menangis keras,
lalu mengeringkan wajah dengan kedua tangannya.
Bahkan sebenarnya, bisa dibilang itulah
yang baru saja dia lakukan.
"Halo," sapa Polly.
"Halo," sapa anak laki-laki itu. "Siapa namamu?"
"Polly," jawab Polly. "Kalau namamu?"
"Digory," jawab si anak laki-laki.
"Wah, namamu aneh sekali!" kata Polly.
"Lebih aneh mana dengan Polly?" kata Digory.
10
"Namamu lebih aneh," kata Polly.
"Tidak," kata Digory.
"Yang pasti aku akan mencuci wajahku,"
kata Polly. "Itu perlu kaulakukan, terutama
setelah—" lalu dia berhenti. Dia berniat berkata
"Setelah kau menangis lama," tapi dia pikir
itu tidak sopan.
"Baiklah, aku akan mencuci muka," kata
11
Digory dengan suara yang jauh lebih keras,
seperti anak lelaki yang saking sedihnya tidak
peduli siapa saja yang tahu dia habis menangis.
"Tapi kau juga akan begini," dia melanjutkan,
"kalau sepanjang umurmu kau hidup di pedesaan
dan memiliki kuda poni, juga sungai di
bagian bawah taman, lalu dibawa untuk hidup
di gua kumuh mengerikan seperti ini."
"London bukan gua," kata Polly yakin. Tapi
anak lelaki itu terlalu marah untuk mendengarnya,
dia pun melanjutkan—
"Dan kalau ayahmu berada jauh di India—
dan kau harus tinggal bersama Bibi dan Paman
yang gila (siapa yang bakal mau?)—dan kalau
alasannya adalah karena mereka harus menjaga
ibumu—dan jika ibumu sakit dan akan—
akan—meninggal." Kemudian wajahnya mulai
membentuk rupa aneh yang biasa muncul bila
kau berusaha menahan air mata.
"Aku tidak tahu itu. Maaf ya," kata Polly
lembut. Kemudian, karena dia hampir tidak
tahu apa yang harus diucapkan dan berusaha
mengalihkan pikiran Diggory ke topik-topik
menggembirakan, dia bertanya:
"Memangnya Mr Ketterly benar-benar gila,
ya?"
"Yah, kalau tidak gila," kata Digory, "pasti-
12
nya dia menyimpan misteri lain. Dia punya
ruang kerja di lantai atas dan Bibi Letty bilang
jangan sekali-kali aku berani ke sana. Nah, itu
saja sudah terdengar mencurigakan, kan? Kemudian
ada satu hal lagi. Setiap kali pamanku
berusaha mengatakan apa pun padaku saat
makan—dia bahkan tidak pernah berusaha bicara
pada Bibi—Bibi Letty langsung menyuruhnya
diam. Dia bilang, 'Tidak perlu mencemaskan
anak itu, Andrew' atau 'Aku yakin Digory
tidak mau mendengar tentang itu' atau kalau
tidak 'Nah, Digory, tidakkah kau ingin main
keluar di taman?"'
"Biasanya pamanmu berusaha bicara tentang
apa?"
"Aku tidak tahu. Dia tidak pernah bisa
bicara banyak. Tapi ada lagi yang lebih membuat
penasaran. Suatu malam—bahkan sebenarnya,
kemarin malam—waktu aku melewati
tangga terbawah menuju loteng, saat mau pergi
tidur (dan biasanya aku tidak pernah terlalu
peduli saat melewatinya), aku yakin aku mendengar
teriakan."
"Mungkin dia menyekap istrinya yang gila
di atas sana."
"Ya, aku sudah memikirkan kemungkinan
itu."
13
"Atau mungkin dia sebenarnya pembuat uang
palsu."
"Atau dia mungkin dulunya bajak laut, seperti
pria yang ada di bagian awal buku Treasure
Island, yang selalu bersembunyi dari temanteman
sekapalnya."
"Seru sekali!" kata Polly. "Aku tidak pernah
menyangka rumahmu begitu menarik."
"Kau mungkin berpendapat rumah itu menarik,"
kata Digory. "Tapi kau tidak bakal menyukainya
kalau harus tidur di sana. Apakah
kau masih akan menyukainya kalau harus selalu
terbaring dalam keadaan terjaga mendengarkan
langkah kaki Paman Andrew yang
mengendap-endap sepanjang koridor menuju
rumahmu? Matanya juga mengerikan sekali."
Begitulah ceritanya bagaimana Polly dan
Digory bisa saling mengenal. Dan karena saat
itu masih permulaan liburan musim panas dan
tidak satu pun dari mereka yang pergi ke laut
tahun itu, mereka bertemu nyaris setiap hari.
Sebagian besar alasan dimulainya petualangan
mereka adalah karena saat itu musim panas
yang paling sering hujan dan dingin yang pernah
ada sejak bertahun-tahun. Keadaan ini
membuat mereka harus berpuas diri dengan
kegiatan-kegiatan di dalam rumah, bisa dibi-
14
lang, petualangan di dalam rumah. Menakjubkan
sekali betapa banyaknya petualangan yang
bisa kaulakukan dengan sebongkah lilin di
suatu rumah besar, atau di deretan rumah.
Polly telah lama menemukan bahwa jika kau
membuka pintu kecil tertentu di loteng yang
berbentuk kotak di rumahnya, kita akan menemukan
tempat penyimpanan air dan ruang
gelap di belakangnya yang bisa kaumasuki
dengan sedikit memanjat hati-hati. Ruang gelap
itu seperti terowongan panjang dengan dinding
bata di satu sisi dan atap curam di sisi lainnya.
Di atap, berkas-berkas kecil cahaya menembus
di antara rongga-rongganya. Tidak ada lantai
di terowongan ini, kita bakal harus melangkah
dari kasau ke kasau, dan di antaranya hanya
ada plester. Kalau kita menginjak plester ini
kau akan mendapati dirimu terjatuh dari langitlangit
ruangan di bawahnya. Polly menggunakan
sebagian kecil terowongan itu, tepat di
sebelah tempat penyimpanan air, sebagai gua
penyelundup. Dia membawa bagian-bagian peti
pakaian tua, beberapa bantalan kursi dapur
yang rusak, dan benda-benda sejenis lainnya,
lalu menyebar semua benda itu di atas kasau
demi kasau sehingga terbentuk semacam lantai.
Di sinilah dia menyimpan kotak uang yang
15
berisi berbagai harta, dan cerita yang sedang
ditulisnya, lalu biasanya beberapa apel. Dia
sering kali diam-diam meminum bir jahe di
sana, botol-botol lamanya membuat tempat itu
lebih kelihatan seperti gua penyelundup.
Digory lumayan menyukai gua itu (Polly
tidak mengizinkannya melihat cerita yang ditulisnya)
tapi anak lelaki itu lebih suka bertualang.
"Polly," kata Digory. "Sepanjang apa terowongan
ini sebenarnya? Maksudku, apakah
terowongan ini berakhir di ujung rumahmu?"
"Tidak," kata Polly. "Dinding-dindingnya tidak
berakhir hingga atap rumah ini saja. Tapi
16
terus memanjang. Aku tidak tahu hingga sejauh
apa."
"Kalau begitu kita bisa menjelajah sejauh
panjangnya deretan rumah ini."
"Sepertinya begitu," kata Polly. "Dan oh,
astaga!"
"Apa?"
"Kita bisa masuk ke rumah-rumah lain."
"Ya, dan dianggap perampok! Tidak, terima
kasih."
"Jangan sok tahu, dengar dulu. Yang kumaksud
itu rumah di sebelah rumahmu."
"Ada apa di rumah itu?"
"Rumah itu kosong. Daddy bilang rumah
itu selalu kosong sejak kami pindah kemari."
"Berarti kurasa kita harus mencoba melihatnya,"
kata Digory. Kalau kau mendengarnya
berbicara, kau tidak akan menduga sebenarnya
dia jauh lebih bersemangat daripada itu. Karena
tentu saja dia sedang memikirkan, seperti yang
juga akan kaulakukan, semua alasan kenapa
rumah itu kosong begitu lama. Begitu juga
Polly. Tidak satu pun di antara mereka yang
mengucapkan kata "berhantu". Dan keduanya
merasa bahwa sekali suatu ide tercetus, akan
jadi tindakan pengecut bila tidak melakukannya.
17
"Jadi kita coba pergi ke sana sekarang?"
tanya Digory.
"Baiklah," jawab Polly.
"Tidak usah kalau kau tidak ingin," kata
Digory.
"Aku mau kalau kau juga mau," kata Polly.
"Bagaimana caranya kita bisa tahu kita sudah
ada tepat di rumah sebelah rumahku?"
Mereka memutuskan harus keluar dari ruang
kotak dan berjalan menyeberanginya dengan
berjalan sebanyak langkah yang dibutuhkan
untuk berpindah dari satu kasau ke kasau
lain. Tindakan ini akan bisa memberikan mereka
perkiraan ada berapa kasau yang harus
dilewati untuk melewati satu ruangan. Kemudian
mereka akan melebihkan kira-kira empat
kasau untuk memperkirakan lorong di antara
dua loteng di rumah Polly, kemudian jumlah
yang sama dengan ruang kotak untuk kamar
tidur pelayan perempuan. Perhitungan ini akan
membantu mereka mengira-ngira panjang rumah.
Kalau mereka sudah melalui jarak itu
sejauh dua kalinya, mereka akan berada di
ujung rumah Digory. Pintu mana pun yang
mereka temui setelah itu akan membawa mereka
ke loteng rumah kosong tersebut.
"Tapi kurasa loteng itu tidak akan benarbenar
kosong," kata Digory.
18
"Memangnya menurutmu bakal ada apa di
sana?"
"Menurutku bakal ada seseorang tinggal secara
diam-diam di sana, hanya keluar-masuk
di malam hari, dengan lentera temaram. Kita
mungkin akan menemukan geng penjahat yang
putus asa dan mendapatkan hadiah untuk penangkapan
mereka. Bisa dibilang mustahil sebuah
rumah kosong selama bertahun-tahun seperti
itu tanpa ada misteri di baliknya."
"Menurut Daddy pasti pipa-pipanya yang
tidak beres," kata Polly.
"Huh! Orang dewasa selalu memikirkan penjelasan-
penjelasan yang tidak menarik," kata
Digory. Karena mereka sekarang sedang berbicara
di loteng dengan cahaya matahari siang
dan bukannya dengan sinar lilin di Gua Penyelundup,
semakin tidak tampak adanya kemungkinan
rumah kosong itu ada hantunya.
Ketika selesai mengukur loteng, mereka harus
mengambil pensil dan melakukan penjumlahan.
Awalnya mereka berdua mendapatkan hasil
yang berbeda, dan bahkan ketika akhirnya
mereka sependapat, aku masih belum yakin
perhitungan mereka benar. Mereka begitu terburu-
buru ingin segera memulai petualangan.
"Kita tidak boleh bersuara," kata Polly ke-
19
tika mereka memanjat lagi ke belakang tempat
penyimpanan air. Karena ini peristiwa penting,
mereka masing-masing membawa lilin (Polly
punya banyak persediaan lilin di guanya).
Keadaan begitu gelap, berdebu, dan lembap
saat mereka melangkah dari kasau ke kasau
tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kecuali
ketika mereka saling berbisik, "Kita sudah ada
di seberang lotengmu sekarang," atau "Kita
pasti sudah setengah jalan melewati rumah
kami". Keduartya tidak pernah tersandung dan
lilin-lilin mereka tidak pernah padam, lalu
akhirnya mereka mencapai suatu tempat mereka
bisa melihat pintu kecil di dinding batu bata
di sebelah kanan mereka. Tidak ada gembok
atau kenop di sisi yang bagian sini tentu saja,
karena pintu itu dibuat untuk masuk dan
bukan keluar, tapi ada semacam pegangan (seperti
yang biasa ditemukan di pintu lemari)
yang mereka yakin bakal bisa diputar.
"Aku buka?" tanya Digory.
"Aku mau kalau kau juga mau," kata Polly,
seperti ucapannya sebelumnya. Keduanya merasa
situasi mulai jadi serius, tapi tidak satu
pun dari mereka yang mau mundur. Dengan
agak susah payah, Digory menekan dan memutar
pegangan itu. Pintu terayun terbuka
20
dan sinar matahari siang yang mendadak menghambur
keluar membuat mata mereka mengejap-
ngejap. Lalu, bersama dengan rasa sangat
terkejut, mereka mendapati mereka sedang
melihat, bukan loteng terlantar, tapi ruangan
berperabot lengkap. Namun ruangan itu sepertinya
memang tak berpenghuni. Sepi sekali di
21
dalamnya. Rasa ingin tahu Polly menguasainya.
Dia meniup lilinnya hingga padam dan masuk
ke ruangan asing itu, nyaris tanpa suara.
Ruangan itu berbentuk, tentu saja, seperti
loteng, tapi dilengkapi perabotan ala ruang
duduk. Setiap sisi dinding ditutupi rak-rak dan
setiap sudut dalam rak itu dipenuhi buku. Api
menyala di perapian (kau pasti ingat bahwa
musim panas tahun itu begitu basah dan dingin)
dan di depan perapian, membelakangi
Digory dan Polly, ada kursi berlengan yang
berpunggung tinggi. Di antara kursi dan Polly,
mengisi sebagian besar ruangan, ada meja besar
yang dipenuhi berbagai benda—buku-buku cetakan
dan jenis buku-buku yang bisa kautulisi,
juga beberapa botol tinta, pena, lilin segel,
dan mikroskop. Tapi yang langsung menarik
perhatian Polly adalah baki kayu merah yang
di atasnya tergeletak beberapa cincin. Cincin
itu masing-masing berpasangan—yang kuning
berpasangan dengan yang hijau, lalu ada sedikit
jarak, kemudian cincin kuning lagi dengan
cincin hijau lain. Cincin-cincin itu tidak lebih
besar daripada cincin-cincin biasa, dan tidak
ada yang bisa mengalihkan perhatian dari
benda-benda itu karena mereka bersinar terang
sekali. Benda-benda itu benda kecil bercahaya
22
terindah yang bisa kaubayangkan. Kalau Polly
lebih muda usianya daripada saat itu, dia
pasti bakal ingin memasukkan salah satunya
ke mulut.
Ruangan itu begitu sepi sehingga kau langsung
bisa mendengar bunyi detakan jam. Namun,
seperti yang kini Polly sadari, ruangan
itu juga tidak benar-benar sepi. Ada suara
berdengung yang samar—amat sangat samar.
Kalau mesin penyedot debu sudah ditemukan
saat itu, Polly pasti akan berpikir itu suara
penyedot debu yang sedang digunakan jauh
sekali—terpisah darinya beberapa ruangan di
beberapa lantai di bawahnya. Tapi dengungan
itu lebih menyenangkan daripada suara mesin,
lebih bernada: hanya saja begitu samar sehingga
kau nyaris tidak bisa mendengarnya.
"Tidak apa-apa—tidak ada orang di sini,"
kata Polly ke balik bahunya ke Digory. Sekarang
dia bicara sedikit lebih keras daripada
bisikan. Lalu Digory keluar, matanya mengejapngejap,
dan tubuhnya tampak kotor sekali—
pasti Polly juga begitu.
"Ini bukan pertanda bagus," kata Digory.
"Ini sama sekali bukan rumah kosong. Sebaiknya
kita cepat pergi sebelum ada orang datang."
23
"Menurutmu cincin-cincin apa itu?" kata
Polly sambil menunjuk cincin-cincin berwarna
tadi.
"Aduh, ayolah," ajak Digory. "Semakin cepat
kita—"
Dia tidak pernah menyelesaikan kata-katanya
karena tepat pada saat itu sesuatu terjadi.
Kursi berpunggung tinggi di depan perapian
tiba-tiba bergerak dan berdiri dari bangkunya—
seperti iblis pantomim keluar dari pintu bawah
panggung—sosok mengejutkan Paman Andrew.
Ternyata mereka tidak berada di rumah kosong,
mereka berada di rumah Digory dan di ruang
kerja yang terlarang dimasuki! Kedua anak itu
berucap "O-o-oh" dan menyadari kekeliruan
besar mereka. Mereka merasa seharusnya sudah
tahu mereka belum pergi cukup jauh.
Paman Andrew bertubuh tinggi dan sangat
kurus. Wajahnya bersih bercukur dengan hidung
bengkok tajam, matanya luar biasa tajam, dan
rambutnya beruban lebat juga berantakan.
Digory tak mampu berkata-kata, karena kini
Paman Andrew tampak seribu kali lebih mengerikan
daripada sebelumnya. Polly belum merasa
setakut itu, tapi tak lama lagi pasti begitu.
Karena tindakan pertama yang Paman Andrew
lakukan adalah berjalan menuju pintu ruangan,
24
menutupnya, dan menguncinya. Lalu dia berbalik,
menatap lekat kedua anak itu dengan
matanya yang tajam, dan tersenyum, menunjukkan
seluruh giginya.
"Nah!" katanya. "Sekarang kakakku yang
bodoh tidak akan bisa membantumu!"
Tindakan itu sama sekali bukan tindakan
yang kita harapkan bakal dilakukan orang
dewasa. Jantung Polly rasanya mau melompat
keluar, dia dan Digory pun mulai berjalan
mundur ke pintu kecil yang mereka lalui tadi.
Tapi Paman Andrew terlalu cepat dibanding
mereka. Tahu-tahu dia sudah berada di belakang
mereka, menutup pintu itu juga, lalu
berdiri menghalanginya. Kemudian dia menggosok-
gosokkan kedua tangannya dan membuat
buku-buku jemari tangannya berderak. Jemarinya
sangat panjang, putih, dan bagus.
"Aku senang sekali kalian datang," katanya.
"Tepat saat aku membutuhkan dua anak."
"Saya mohon, Mr Ketterly," kata Polly. "Saat
ini sudah hampir waktunya makan malam dan
saya harus segera pulang. Maukah Anda membiarkan
kami keluar?"
"Belum," jawab Paman Andrew. "Ini kesempatan
yang terlalu bagus untuk dilewatkan.
Aku memang menginginkan dua anak. Jadi
25
begini, aku sedang melakukan suatu percobaan
besar. Aku sudah mengetesnya pada hamster
dan tampaknya berhasil. Tapi masalahnya
hamster tidak bisa memberitahumu apa-apa.
Dan kau tidak bisa menjelaskan cara kembali
kepadanya."
"Begini, Paman Andrew," kata Digory, "sekarang
benar-benar saatnya makan malam dan
mereka akan segera mencari kami. Kau harus
membiarkan kami keluar."
"Harus?" tanya Paman Andrew.
Digory dan Polly bertukar pandang sekilas.
Mereka tidak berani mengatakan apa-apa, tapi
pandangan itu berarti "Ini mengerikan sekali"
dan "Kita harus membujuknya."
"Kalau Anda membiarkan kami keluar untuk
makan malam sekarang," kata Polly, "kami
bisa kembali lagi ke sini setelahnya."
"Ah, tapi bagaimana aku bisa yakin kalian
akan melakukan itu?" tanya Paman Andrew
dengan senyum licik. Lalu tampaknya dia berubah
pikiran.
"Yah, yah," katanya, "kalau kalian memang
harus pergi, kurasa kalian harus pergi. Aku
tidak bisa mengharapkan dua anak muda seperti
kalian bakal tertarik berbincang-bincang
dengan orang tua sepertiku." Dia mengembus-
26
kan napas dan melanjutkan. "Kalian sama
sekali tidak akan bisa membayangkan betapa
terkadang aku sangat kesepian. Tapi tidak masalah.
Pergilah makan malam. Tapi aku memberi
kalian hadiah sebelum kalian pergi. Tidak
setiap hari aku bisa melihat gadis kecil di
ruang kerjaku yang membosankan ini, terutama,
kalau aku boleh berterus terang, wanita muda
yang sangat cantik sepertimu."
Polly mulai berpikir bahwa mungkin pria
ini tidaklah segila bayangannya.
"Apakah kau mau cincin, sayangku?" tanya
Paman Andrew ke Polly.
"Apakah maksudmu salah satu cincin kuning
atau hijau itu?" tanya Polly. "Kau baik sekali!"
"Bukan yang hijau," kata Paman Andrew.
"Sayangnya aku tidak bisa memberimu cincin
yang hijau. Tapi aku akan senang sekali bila
bisa memberimu salah satu cincin kuning itu,
bersama rasa cintaku. Ayo, cobalah salah satunya."
Kini Polly sudah cukup menguasai rasa
takutnya dan yakin pria tua ini tidaklah gila,
lagi pula pastinya memang ada sesuatu yang
anehnya menarik pada cincin-cincin bersinar
terang itu. Dia bergerak mendekati baki.
27
28
"Wah! Astaga," katanya. "Suara dengungan
itu terdengar lebih keras di sini. Hampir seolah
cincin-cincin inilah yang mengeluarkannya."
"Khayalanmu indah sekali, Sayang," kata
Paman Andrew sambil tertawa. Suara tawanya
terdengar seperti tawa yang sangat biasa, tapi
Digory sempat melihat ekspresi bersemangat,
hampir serakah, di wajahnya.
"Polly! Jangan ceroboh!" Digory berteriak.
"Jangan sentuh cincin-cincin itu."
Terlambat. Tepat saat Digory berbicara, tangan
Polly terulur untuk menyentuh salah satu
cincin itu. Dan mendadak, tanpa kilatan cahaya,
suara, atau peringatan apa pun, Polly
menghilang. Hanya tinggal Digory dan pamannya
di ruangan itu.
KEJADIAN itu begitu tiba-tiba dan mencekam,
tidak seperti apa pun yang pernah
dialami Digory, bahkan dalam mimpi buruk
sekalipun, sehingga dia menjerit. Tangan Paman
Andrew langsung membekap mulutnya. "Hentikan
itu!" desisnya di telinga Digory. "Kalau
kau terus membuat keributan, ibumu akan
mendengarnya. Dan kau tahu sendiri apa yang
bisa terjadi bila dia terlalu terkejut."
Seperti yang Digory ceritakan nanti, jenis
kemarahan mengerikan yang ingin dilampiaskannya
ke pria itu hampir membuatnya muak.
Tapi tentu saja dia tidak menjerit lagi.
"Begitu lebih baik," kata Paman Andrew.
"Mungkin kau juga tidak bisa mencegahnya.
Memang mengejutkan bila kau melihat seseorang
lenyap untuk pertama kalinya. Aku saja
Digory dan Pamannya
BAB 2
29
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection's
shock waktu hamsterku menghilang kemarin
malam."
"Apakah itu yang terjadi waktu kau menjerit
tempo lalu?" tanya Digory.
"Oh, kau mendengar itu, ya? Kuharap kau
tidak sedang memata-mataiku?"
"Tidak, tentu tidak," jawab Digory penuh
gengsi. "Tapi apa yang terjadi pada Polly?"
"Beri aku selamat, keponakanku tersayang,"
kata Paman Andrew, menggosok kedua tangannya.
"Percobaanku telah berhasil. Gadis kecil
itu lenyap—menghilang—keluar dari dunia ini."
"Apa yang telah kaulakukan padanya?"
"Mengirimnya ke—yah—ke tempat lain."
"Apa maksudmu?" tanya Digory.
Paman Andrew duduk dan menjawab, "Baiklah,
aku akan menceritakan semuanya kepadamu.
Kau sudah pernah dengar kisah tentang
Mrs Lefay yang tua?"
"Bukankah dia bibi buyutku atau semacamnya?"
tanya Digory.
"Bukan juga," kata Paman Andrew. "Dia
ibu angkatku. Itu dia, di sana, di dinding."
Digory mendongak dan melihat foto yang
sudah buram: wajah wanita tua mengcnakan
topi bonnet yang berpita di bagian dagunya.
Dan dia kini bisa mengingat bahwa dia dulu
30
juga pernah melihat foto wajah yang sama di
laci tua di rumah, di desanya. Dia telah
bertanya kepada ibunya siapa wanita itu dan
ibunya tampak tidak terlalu berminat membicarakan
topik itu lebih lanjut lagi. Wajahnya
sama sekali tidak menyenangkan, pikir Digory,
tapi tentu saja dengan foto-foto zaman itu
kita tidak akan pernah bisa benar-benar tahu.
"Apakah ada—pernah ada—sesuatu yang salah
padanya, Paman Andrew?" tanyanya.
"Yah," kata Paman Andrew sambil terkekeh,
"tergantung dengan apa yang kausebut sebagai
salah. Orang-orang begitu berpikiran sempit.
Dia memang sangat unik di masa hidupnya.
Melakukan berbagai tindakan tidak bijaksana.
Itulah sebabnya mereka membungkamnya."
"Di rumah sakit jiwa, maksudmu?"
"Oh bukan, bukan, bukan," kata Paman
Andrew, nada suaranya terkejut. "Bukan di
tempat yang seperti itu. Maksudku hanya penjara."
"Astaga!" kata Digory. "Apa yang telah
dilakukannya?"
"Ah, wanita malang," kata Paman Andrew,
"dia telah bertindak tidak bijaksana. Sebaiknya
kita tidak membahas semua itu. Dia selalu
bersikap baik padaku."
31
"Tapi tunggu dulu, apa hubungannya semua
ini dengan Polly? Kenapa kau tidak langsung
saja—"
"Semua ada waktunya, anakku," kata Paman
Andrew. "Mereka membiarkan Mrs Lefay
keluar sebelum dia meninggal dan aku salah
satu dari sedikit orang yang dia izinkan menemuinya
di hari-hari terakhir sakitnya. Dia
begitu membenci orang-orang biasa yang tidak
pedulian, kau harus tahu itu. Aku sendiri juga
begitu. Aku dan dia memiliki ketertarikan pada
hal-hal yang sama. Hanya beberapa hari sebelum
kematiannya, dia menyuruhku menghampiri
meja rias tua di rumahnya, membuka laci
rahasia, lalu membawakan kepadanya kotak
kecil yang kutemukan di dalamnya. Saat aku
mengangkat kotak itu aku bisa menduga dari
rasa kesemutan di jemari tanganku bahwa aku
sedang memegang rahasia besar di tanganku.
Dia memberikan kotak itu kepadaku dan memaksaku
berjanji bahwa segera setelah dia
meninggal aku akan membakarnya, tetap dalam
keadaan tak pernah terbuka dan dengan upacara
tertentu. Aku tidak menepati janji itu."
"Yah, kalau begitu, kau jahat sekali," komentar
Digory.
"Jahat?" kata Paman Andrew dengan wajah
32
bertanya-tanya. "Oh, aku mengerti. Maksudmu,
anak-anak lelaki harus menepati janji. Itu sangat
benar: yang paling tepat dan pantas dilakukan,
aku yakin, dan aku lega kau sudah
diajar untuk bersikap begitu. Tapi tentu saja
kau harus memahami bahwa peraturan seperti
itu, betapa pun bagusnya untuk anak-anak
lelaki—pelayan—wanita—bahkan manusia pada
umumnya, tidak bisa diharapkan berlaku pada
siswa-siswa luar biasa, para pemikir dan ahli
pengetahuan hebat. Tidak, Digory. Para pria
seperti aku, yang memiliki kebijakan tersembunyi,
terbebaskan dari peraturan biasa seperti
begitu juga kami terlepaskan dari kesenangankesenangan
biasa. Takdir kami, anakku, adalah
takdir yang tinggi dan sepi."
Saat mengatakan ini dia mengembuskan napas
dan tampak begitu muram, mulia, juga
misterius sehingga sesaat Digory benar-benar
berpikir Paman Andrew sedang mengucapkan
sesuatu yang sangat menakjubkan. Tapi kemudian
dia teringat ekspresi buruk yang dilihatnya
di wajah sang paman beberapa saat sebelum
Polly menghilang. Dia pun langsung bisa melihat
apa yang ada di balik kata-kata luar
biasa Paman Andrew. Semua itu hanya berarti,
katanya pada dirinya sendiri, bahwa Paman
33
Andrew pikir dia bisa melakukan apa saja
untuk mendapatkan apa pun yang diinginkannya.
"Tentu saja," kata Paman Andrew, "aku
tidak berani membuka kotak itu lama sekali,
karena aku tahu bisa saja isinya sesuatu yang
sangat berbahaya. Karena ibu angkatku wanita
yang amat menakjubkan. Sebenarnya, dia satu
dari manusia-manusia terakhir yang memiliki
darah peri dalam tubuhnya. (Dia bilang ada
dua orang lain di masanya. Salah satunya
seorang bangsawan bergelar duchess dan satu
lagi wanita tukang bersih-bersih.) Bahkan,
Digory, saat ini kau sedang berbicara dengan
pria terakhir (mungkin) yang benar-benar memiliki
ibu angkat peri. Nah! Itu akan jadi
sesuatu yang bakal kauingat ketika kau sendiri
sudah menjadi pria tua."
Aku berani bertaruh dia peri yang jahat,
pikir Digory, lalu menambahkan dengan keras,
"Tapi bagaimana dengan Polly?"
"Kenapa kau terus-terusan meributkan masalah
itu?" kata Paman Andrew. "Seolah masalah
itulah yang paling penting! Tugas pertamaku
adalah tentu saja mempelajari kotak
itu sendiri. Kotaknya kuno sekali. Dan bahkan
pada saat itu aku tahu cukup banyak untuk
34
yakin kotak tersebut bukan buatan Yunani,
Mesir kuno, Babilonia, Hittite, ataupun Cina.
Usianya lebih tua daripada negara-negara itu.
Ah—benar-benar hari yang indah ketika akhirnya
aku mengetahui kebenarannya. Kotak itu
buatan bangsa Atlantis, datangnya dari kepulauan
Atlantis yang hilang. Itu berarti kotak
itu jauh lebih tua berabad-abad daripada bendabenda
Zaman Batu yang digali di Eropa. Dan
benda itu juga tidaklah kasar dan mentah
seperti barang Zaman Batu. Karena di awal
masa, Atlantis sudah menjadi kota hebat dengan
istana-istana, kuil-kuil, dan orang-orang
terpelajar."
Paman Andrew berhenti sesaat seolah menduga
Digory akan mengatakan sesuatu. Tapi
anak itu semakin tidak menyukai pamannya
sejalan dengan setiap menit yang berlalu, jadi
dia tidak mengucapkan apa-apa.
"Sementara itu," Paman Andrew melanjutkan,
"aku sedang mempelajari banyak sihir
secara umum dengan berbagai cara (yang kurasa
tidaklah pantas bila dijelaskan kepada
anak kecil). Itu berarti aku mendapatkan bayangan
yang cukup jelas tentang benda-benda
macam apa saja yang mungkin berada di dalam
kotak itu. Dengan berbagai tes aku menyempit-
35
kan berbagai kemungkinan. Aku harus mengenal
beberapa—yah, sejumlah orang jahat aneh,
dan melalui berbagai pengalaman yang sangat
tidak menyenangkan. Semua itulah yang membuat
rambutku beruban. Seseorang tidaklah
begitu saja menjadi penyihir. Kesehatanku sempat
ambruk. Tapi aku membaik. Dan aku
akhirnya tahu."
Meski tidak ada kemungkinan, walau barang
sedikit pun, ada orang lain yang mendengarkan
pembicaraan mereka, Paman Andrew mencondongkan
tubuh ke depan dan hampir berbisik
ketika berkata:
"Kotak Atlantis itu berisi sesuatu yang telah
dibawa dari dunia lain ketika dunia kita baru
saja dimulai."
"Apa?" tanya Digory yang kini jadi sangat
tertarik, tanpa bisa menahan diri.
"Hanya debu," jawab Paman Andrew. "Debu
36
bagus dan kering. Tidak banyak yang bisa
dilihat. Bahkan bisa dibilang, tidak banyak
yang bisa ditunjukkan setelah kerja keras seumur
hidup. Ah, tapi waktu aku melihat debu
itu (aku benar-benar berhati-hati untuk tidak
menyentuhnya) dan berpikir bahwa setiap butir
pernah berada di dunia lain—maksudku bukan
planet lain tentunya, planet-planet itu juga
bagian dari dunia kita dan kau bisa mencapainya
kalau kau pergi cukup jauh—tapi Dunia
Lain sungguhan—Alam Lain—
jagat raya lain—suatu tempat
yang tidak akan pernah kaucapai
walaupun kau menjelajahi
luar angkasa jagat raya ini selama-
lamanya—dunia yang hanya
bisa dicapai dengan sihir—nah!"
Saat mengatakan itu Paman
Andrew menggosok-gosokkan kedua
tangannya sampai buku-buku
jemarinya berderak seperti
kembang api.
"Aku tahu," dia melanjutkan,
"hanya kalau kau
37
bisa menemukan bentuk tepatnya maka debu
itu bisa menarikmu ke tempat asalnya. Tapi
kesulitannya justru terletak pada mencari
bentuk tepatnya itu. Pengalaman-pengalaman
terdahuluku semua adalah kegagalan. Aku mencobanya
pada hamster. Beberapa di antaranya
hanya mati. Beberapa yang lain meledak seperti
bom-bom kecil—"
"Itu tindakan yang kejam sekali," kata Digory,
yang dulu pernah punya kelinci.
"Kenapa kau selalu bisa mengalihkan topik
pembicaraan?" kata Paman Andrew. "Itulah
gunanya makhluk-makhluk itu. Aku membelinya
sendiri. Sekarang sebentar—sampai di mana
aku tadi? Ah ya. Akhirnya aku berhasil membuat
cincin-cincin itu: cincin yang warnanya
kuning. Tapi sekarang kesulitan baru muncul.
Aku cukup yakin saat ini, bahwa cincin yang
kuning bisa mengirimkan makhluk mana pun
yang menyentuhnya ke Tempat Lain. Tapi apalah
gunanya itu semua kalau aku tidak bisa
mengembalikan mereka untuk bercerita kepadaku
apa yang telah mereka temukan di sana?"
"Dan bagaimana nasib mereka?" tanya
Digory. "Kekacauan yang bakal mereka temui
kalau mereka tidak bisa kembali!"
"Kau terus-menerus melihat segala sesuatunya
38
dengan sudut pandang yang salah," kata Paman
Andrew dengan ekspresi tidak sabar. "Tidak
bisakah kau mengerti semua ini pengalaman
hebat? Tujuan utama mengirim siapa pun ke
Tempat Lain adalah supaya aku bisa tahu
bagaimana rasanya."
"Kalau begitu, kenapa kau tidak pergi saja
sendiri ke sana?"
Digory nyaris tidak pernah melihat seseorang
tampak begitu terkejut dan tersinggung seperti
Paman Edward sekarang hanya karena pertanyaan
sederhana itu. "Aku? Aku?" dia berseru.
"Anak ini pasti gila! Pria dengan usiaku, dengan
keadaan kesehatan sepertiku, rela mengambil
risiko kejutan dan bahaya yang mungkin muncul
karena mendadak dilemparkan ke dunia lain?
Aku tidak pernah mendengar apa pun yang
begitu tidak masuk di akal sepanjang hidupku!
Apakah kausadar dengan yang baru saja kaukatakan?
Bayangkan apa arti kata Dunia Lain—
kau mungkin saja bertemu apa pun—apa pun."
"Tapi kurasa tidak masalah bagimu untuk
mengirim Polly ke sana," kata Digory. Pipinya
terbakar karena amarah sekarang. "Dan aku
hanya bisa berkata," dia melanjutkan, "biarpun
kau pamanku—kau telah bertindak pengecut,
mengirim anak perempuan ke tempat yang
39
terlalu menakutkan bagimu untuk pergi sendiri."
"Diam kau!" kata Paman Andrew, sambil
memukul meja keras-keras. "Aku tidak akan
sudi diceramahi seperti itu oleh anak sekolahan
kecil yang kotor. Kau tidak mengerti. Aku
ilmuwan besar, sang penyihir, si pakar yang
sedang melakukan percobaan. Tentu saja aku
membutuhkan seseorang untuk menjadi subjek
percobaan. Demi jiwaku, jangan-jangan setelah
ini kau akan berkata bahwa seharusnya aku
meminta izin pada hamster-hamsterku sebelum
aku menggunakan mereka! Tidak ada kebijakan
besar yang bisa dicapai tanpa pengorbanan.
Tapi gagasan seharusnya aku pergi sendiri adalah
omong kosong. Itu seperti meminta jenderal
berperang seperti prajurit biasa. Seandainya
aku terbunuh, apa jadinya kerja keras seumur
hidupku?"
"Oh, berhentilah membual," kata Digory.
"Kau akan membawa Polly kembali, tidak?"
"Aku baru saja akan memberitahumu soal
itu ketika dengan tidak sopan kau memotongku,"
kata Paman Andrew, "Bahwa akhirnya
aku menemukan cara untuk melakukan perjalanan
pulang. Cincin-cincin yang hijau akan
menarikmu pulang."
40
"Tapi Polly tidak membawa cincin yang
hijau."
"Tidak," kata Paman Andrew dengan senyum
jahat.
"Kalau begitu dia tidak akan bisa kembali,"
teriak Digory. "Dan itu sama saja dengan kau
sudah membunuhnya."
"Dia bisa saja kembali," kata Paman Andrew,
"kalau ada orang yang menyusulnya, mengenakan
cincin kuning sambil membawa dua cincin
hijau, satu untuk membawa orang itu sendiri
pulang dan yang satu lagi untuk membawa
Polly pulang."
Dan saat ini tentu saja Digory sudah bisa
melihat jebakan yang menjeratnya. Dia memandang
Paman Andrew, tanpa mengatakan apaapa,
dengan mulut ternganga lebar. Kedua pipinya
kini pucat sekali.
"Aku berharap," kata Paman Andrew kini
dengan suara yang sangat tinggi dan kuat,
seolah dia paman sempurna yang baru saja
memberi seseorang uang saku besar dan nasihat
baik, "Aku berharap, Digory, kau tidak
akan mundur dan menyerah. Aku akan jadi
sangat menyesal bila ada anggota keluarga
kita yang tidak memiliki kehormatan dan keberanian
yang cukup besar untuk bersedia pergi
41
menyelamatkan—ngng—lady yang dalam kesusahan."
"Oh, diamlah!" kata Digory. "Kalau kau
punya kehormatan dan segala itu, kau sendiri
yang akan pergi. Tapi aku tahu kau tidak
akan melakukan itu. Baiklah. Aku mengerti
aku harus pergi. Tapi ternyata kau memang
monster. Kurasa kau sudah merencanakan semua
ini supaya Polly pergi tanpa sepengetahuannya
sehingga kemudian aku harus pergi
menjemputnya."
"Tentu saja," kata Paman Andrew dengan
senyumnya yang menyebalkan.
"Baiklah. Aku akan pergi. Tapi sebelumnya
ada satu hal yang harus kukatakan. Aku tidak
pernah percaya pada sihir hingga hari ini. Aku
lihat sekarang sihir adalah nyata. Yah, dan
kalau sihir memang ada, berarti kurasa segala
kisah tua tentang peri juga kurang-lebih benar.
Dan kau tidak lain adalah penyihir licik yang
kejam seperti yang ada di dalam cerita-cerita.
Nah, aku tidak pernah membaca cerita di
mana orang-orang seperti itu tidak mendapat
ganjaran di akhir kisah, dan aku berani bertaruh
itulah yang juga akan kaualami. Kau
pantas menerimanya."
Dari segala hal yang telah diucapkan Digory,
42
kata-katanya yang ini merupakan yang pertama
yang mengenai sasaran. Paman Andrew terkejut
kemudian muncul awan ketakutan menaungi
wajahnya yang, meskipun dia begitu kejam,
nyaris bisa membuatmu mengasihaninya. Tapi
sedetik kemudian dia mengusirnya pergi dan
berkata ditemani tawa yang agak dipaksakan,
"Yah, yah, kurasa itu hal biasa yang bakal
muncul di benak seorang anak—terutama karena
dibesarkan di antara wanita-wanita, seperti
dirimu. Kisah-kisah istri tua, hah? Kurasa kau
tidak perlu mencemaskan bahaya yang akan
mendatangiku, Digory. Bukankah lebih baik
kau mengkhawatirkan bahaya yang menghampiri
teman kecilmu itu? Dia sudah pergi cukup
lama. Kalau memang ada bahaya Di Sana—
yah, akan sangat disayangkan bila kau tiba
terlambat."
"Seolah kau peduli saja," kata Digory penuh
amarah. "Tapi aku sudah muak mendengar
segala bualan ini. Apa yang harus kulakukan?"
"Kau benar-benar harus belajar mengendalikan
emosimu, anakku," kata Paman Andrew
tenang. "Kalau tidak kau akan tumbuh menjadi
seperti Bibi Letty. Sekarang. Kemarilah."
Paman Andrew bangkit, mengenakan sepa-
43
sang sarung tangan, lalu berjalan menuju baki
tempat cincin-cincin itu berada.
"Cincin-cincin ini hanya berfungsi," katanya,
"kalau mereka benar-benar menyentuh kulitmu.
Kalau memakai sarung tangan, aku bisa mengangkatnya—
seperti ini—tanpa ada kejadian apaapa.
Kalau kau membawa salah satunya di
sakumu juga tidak akan terjadi apa-apa, tapi
tentu saja kau harus berhati-hati untuk tidak
memasukkan tangan ke saku dan tanpa sengaja
menyentuhnya. Di saat menyentuh cincin kuningmu,
kau akan lenyap dari dunia ini. Waktu
kau berada di Tempat Lain, dugaanku—tentu
saja ini belum dites kebenarannya, tapi aku
menduga—saat kau menyentuh cincin hijau kau
akan menghilang dari dunia itu dan—perkiraanku—
muncul kembali di dunia ini. Sekarang.
Aku akan mengambil dua cincin hijau ini dan
memasukkan keduanya ke saku sebelah kananmu.
Ingatlah dengan sangat hati-hati di mana
cincin yang hijau berada. Hijau sama dengan
Green. Kanan sama dengan Right. G untuk
Green dan R untuk Right. G.R. kau lihat:
adalah dua huruf pertama kata Green. Satu
untukmu dan satu lagi untuk si gadis kecil.
Dan sekarang kau ambillah sendiri cincin yang
kuning. Aku akan mengenakannya—di jariku—
44
kalau aku jadi kau. Kemungkinan jatuhnya
akan lebih kecil bila kaulakukan itu."
Digory hampir saja mengambil cincin kuning
ketika tiba-tiba dia berhenti.
"Tunggu dulu," katanya. "Bagaimana dengan
Ibu? Bagaimana kalau dia menanyakan keberadaanku?"
"Semakin cepat kau pergi, semakin cepat
kau akan kembali," kata Paman Andrew ceria.
"Tapi kau bahkan tidak benar-benar yakin
aku bisa kembali."
Paman Andrew mengangkat bahunya, berjalan
menyeberangi ruangan menuju pintu,
membuka kunci, membukanya lebar-lebar dengan
entakan, dan berkata:
"Oh, baiklah kalau begitu. Terserah kau
saja. Turunlah dan santap makan malammu.
Biarkan si gadis kecil itu dimakan binatangbinatang
liar, tenggelam, kelaparan di Dunia
Lain, atau tersesat di sana selama-lamanya,
kalau itu yang kauinginkan. Semuanya sama
saja bagiku. Mungkin sebelum waktunya minum
teh sebaiknya kau mampir ke sebelah
dan menemui Mrs Plummer untuk menjelaskan
dia tidak akan pernah melihat anak perempuannya
lagi karena kau takut mengenakan sebentuk
cincin."
45
"Ya ampun," kata Digory, "aku benar-benar
berharap aku sudah cukup besar untuk meninju
kepalamu!"
Lalu Digory mengancingkan mantelnya, menarik
napas dalam-dalam, dan meraih cincin
itu. Dan saat itu dia berpikir, seperti yang
selalu dia lakukan setelahnya, bahwa kata hatinya
tidak akan membiarkannya mengambil pilihan
lain.
46
PAMAN ANDREW dan ruang kerjanya
langsung menghilang. Kemudian selama sesaat,
segalanya menjadi seolah bertumpuk-tumpuk.
Hal selanjutnya yang Digory ketahui adalah
adanya cahaya hijau lembut yang menyinarinya
dari atas dan kegelapan di bawahnya.
Dia tidak tampak seperti sedang berdiri atau
apa pun, atau duduk, atau berbaring. Seolah
tidak ada yang menyentuhnya. "Sepertinya aku
ada di dalam air," kata Digory. "Atau di
bawah air." Pemikiran ini sempat membuatnya
takut, tapi hampir seketika dia bisa merasakan
tubuhnya naik dengan cepat. Lalu kepalanya
tiba-tiba keluar di udara dan dia mendapati
dirinya berenang ke tepian, menuju daratan
berumput lembut di pinggir suatu mata air.
Saat bangkit dia menyadari dirinya tidak
47
Hutan di Antara Dunia-Dunia
BAB 3
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection's
basah kuyup dan meneteskan air. Dia juga
tidak terengah-engah mencari udara seperti yang
akan diperkirakan semua orang bila habis berada
di bawah air. Pakaiannya sama sekali
kering. Dia sedang berdiri di pinggir mata air
kecil—tidak lebih dari tiga meter dari satu sisi
ke sisi lainnya—dalam suatu hutan. Pepohonan
tumbuh rapat dan berdaun lebat sehingga dia
bahkan tidak bisa mengintip langit. Semua
cahaya berwarna hijau dan menyeruak di
antara dedaunan, tapi pastinya di atas sana
ada matahari yang bersinar sangat kuat karena
48
sinar hijau yang dirasakannya begitu terang
dan hangat. Hutan itu hutan tersunyi yang
mungkin bisa kaubayangkan. Tidak ada
burung-burung, tidak ada serangga, tidak ada
hewan-hewan, dan tidak ada angin. Kau nyaris
bisa merasakan pepohonan tumbuh. Mata air
tempat Digory baru saja keluar ternyata bukanlah
satu-satunya mata air di sana. Ada lusinan
mata air lain—satu mata air di setiap meter
sejauh matamu bisa memandang. Kau hampir
bisa merasakan pepohonan mengisap air dengan
akar-akar mereka. Hutan itu sangat hidup.
Ketika berusaha melukiskannya nanti Digory
selalu berkata, "Tempat itu begitu kaya, sekaya
kue plum.'"
Hal teranehnya, hampir sebelum dia memandang
ke sekeliling, Digory separo lupa bagaimana
dia bisa datang ke sana. Pada suatu
titik, dia pastinya tidak memikirkan Polly, Paman
Andrew, atau bahkan ibunya. Dia sama
sekali tidak takut, bersemangat, atau penasaran.
Kalau ada yang bertanya kepadanya, "Dari
mana asalmu?" dia mungkin bakal menjawab,
"Tempat tinggalku dari dulu di sini." Seperti
itulah rasanya—seolah seseorang sudah berada
di tempat itu sejak lama dan tidak pernah
merasa bosan, walaupun tidak ada yang pernah
49
terjadi di sana. Seperti yang diceritakannya
lama setelah itu, "Tempat itu bukan jenis
tempat di mana banyak hal terjadi. Pepohonan
terus bertumbuh, itu saja."
Setelah lama memandangi hutan itu, Digory
menyadari ada gadis kecil berbaring telentang
di kaki pohon beberapa meter dari dirinya.
Mata gadis itu nyaris tertutup tapi tidak terpejam,
seolah dia sedang berada di antara
keadaan tidur dan bangun. Jadi Digory menatapnya
lama sekali dan tidak berkata apaapa.
Dan akhirnya gadis itu membuka mata
dan memandangi Digory lama sekali, juga tanpa
berkata apa-apa. Lalu gadis itu bicara,
dengan suara yang pelan dan lembut seperti
orang mengantuk.
"Sepertinya aku pernah bertemu denganmu
sebelumnya," katanya.
"Menurutku juga begitu," kata Digory. "Kau
sudah lama berada di sini?"
"Oh, aku selalu ada di sini," kata si gadis.
"Setidaknya—entahlah—lama sekali."
"Aku juga," ucap Digory.
"Tidak ah," kata si gadis. "Aku baru saja
melihatmu keluar dari mata air itu."
"Ya, mungkin memang begitu," kata Digory
kebingungan. "Aku lupa."
50
Kemudian untuk beberapa saat yang cukup
lama keduanya tidak saling bicara lagi.
"Tunggu dulu," kata si gadis tiba-tiba, "kirakira
kita memang pernah bertemu, tidak ya?
Aku punya sejenis bayangan—semacam gambaran
di kepalaku—tentang anak laki-laki dan
perempuan seperti kita—tinggal di suatu tempat
yang agak berbeda—dan melakukan berbagai
hal. Mungkin itu hanya mimpi."
"Aku juga punya mimpi yang sama, sepertinya,"
kata Digory. "Tentang anak laki-laki
dan perempuan, tinggal bersebelahan—dan sesuatu
tentang merangkak di antara kerangka
rumah. Aku ingat anak perempuan itu mukanya
kotor."
"Sepertinya ingatanmu terbalik? Dalam mimpiku
justru si anak laki-laki yang wajahnya
kotor."
"Aku tidak bisa mengingat wajah anak lelaki
itu," kata Digory kemudian menambahkan,
"Wah! Apa itu?"
"Wah! Itu kan hamster," kata si gadis kecil.
Dan memang benar—di sana ada hamster gendut,
mengendus-endus rumput. Tapi di sekeliling
perut hamster itu ada tali dan, terikat di tali
itu, cincin kuning yang bersinar terang.
"Lihat! Lihat!" teriak Digory. "Cincin itu!
51
Dan lihat! Kau juga mengenakan
cincin seperti
itu di jarimu. Aku
juga."
Si gadis kecil itu
kini duduk tegak, akhirnya benar-benar tertarik.
Mereka menatap satu sama lain lekat-lekat,
berusaha mengingat. Kemudian di saat yang
tepat bersamaan, si gadis berteriak, "Mr
Ketterley," dan si anak lelaki berseru, "Paman
Andrew," lalu mereka pun tahu siapa diri
mereka dan mulai mengingat keseluruhan cerita.
Setelah banyak berbincang-bincang selama beberapa
menit, akhirnya mereka mengingat
semuanya. Digory menjelaskan betapa kejamnya
tindakan Paman Andrew.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
tanya Polly. "Membawa pulang hamster ini
dan kembali ke dunia kita?"
"Tidak perlu terburu-buru," kata Digory,
sambil menguap lebar sekali.
"Kurasa harus begitu," kata Polly. "Tempat
ini terlalu sunyi. Begitu—begitu seperti mimpi.
Kau sendiri nyaris tertidur. Sekali kita menyerah
terhadap pengaruhnya kita hanya akan berbaring
dan dalam keadaan setengah tertidur
selama-lamanya."
52
"Tapi nyaman sekali berada di sini," kata
Digory.
"Ya, memang benar," kata Polly. "Tapi kita
harus kembali." Dia berdiri dan mulai berjalan
menghampiri si hamster dengan hati-hati. Tapi
kemudian dia berubah pikiran.
"Sebaiknya kita biarkan saja si hamster di
sini," kata Polly. "Dia tampak begitu bahagia
di tempat ini, dan pamanmu hanya akan melakukan
sesuatu yang buruk padanya kalau
kita membawanya pulang."
"Aku yakin dia akan melakukan itu," komentar
Digory. "Lihat saja caranya memperlakukan
kita. Omong-omong, bagaimana cara
kita pulang?"
"Kurasa sih, lewat mata air itu lagi."
Mereka berjalan mendekati mata air dan
berdiri berdampingan di tepinya, menunduk
menatap permukaan air yang datar. Pada permukaan
itu terlihat bayangan cabang-cabang
pohon yang hijau penuh dedaunan sehingga
tampak sangat dalam.
"Kita tidak punya perlengkapan berenang,"
kata Polly.
"Kita tidak butuh semua itu, bodoh," kata
Digory. "Kita akan menyelam ke dalamnya
dengan pakaian lengkap. Masa kau tidak ingat
53
airnya sama sekali tidak membasahi kita ketika
kita naik ke sini?"
"Kau bisa berenang?"
"Sedikit. Kau bagaimana?"
"Yah—tidak terlalu bisa."
"Kurasa kita tidak akan perlu berenang,"
kata Digory. "Kita kan mau pergi ke bawahnya,
ya kan?"
Tidak satu pun di antara mereka menyukai
ide melompat ke mata air itu, tapi tidak ada
yang mengatakannya. Mereka bergandengan tangan
dan berkata "Satu—Dua—Tiga—Lompat"
lalu melompat. Mereka merasakan cipratan besar
dan tentu saja mereka memejamkan mata.
Tapi ketika membuka mata lagi, mereka mendapati
diri mereka masih berdiri, bergandengan
tangan di hutan hijau, dan nyaris hanya terendam
air hingga ke mata kaki. Mata air itu
ternyata beberapa sentimeter dalamnya. Mereka
berjalan kembali ke daratan kering.
"Apa sebenarnya yang salah?" tanya Polly
dengan suara ketakutan, tapi tidaklah setakut
seperti yang kaubayangkan, karena sangatlah
sulit merasa sangat takut saat berada di hutan
itu. Tempat itu terlalu damai.
"Oh! Aku tahu," kata Digory. "Tentu saja,
ini tidak akan berhasil. Kita masih mengenakan
54
cincin kuning kita. Cincin-cincin ini kan untuk
perjalanan pergi. Cincin-cincin yang hijau akan
membawa kita pulang. Kita harus mengganti
cincin kita. Kau punya saku? Bagus. Simpan
cincin kuningmu di saku kiri. Aku punya dua
cincin hijau. Ini satu untukmu."
Mereka mengenakan cincin hijau dan kembali
ke mata air. Tapi sebelum mereka mencoba
melompat lagi, Digory mengeluarkan "O-ooh!"
yang panjang sekali.
"Ada apa?" tanya Polly.
"Aku baru saja mendapat ide bagus," kata
Digory. "Untuk apakah mata air-mata air lainnya?"
"Apa maksudmu?"
"Begini, kalau kita bisa kembali ke dunia
kita sendiri dengan melompat ke mata air
yang ini, bukankah berarti kita bisa pergi ke
tempat lain dengan melompat ke mata air
lain? Mungkin saja ada dunia di bawah setiap
mata air."
"Tapi bukankah kita sudah berada di Dunia
Lain, Tempat Lain, atau apalah namanya itu
yang dibicarakan Paman Andrew? Bukankah
kau bilang—"
"Ah, lupakan Paman Andrew," potong
Digory. "Kurasa dia bahkan tidak tahu apa-
55
apa tentang itu. Dia tidak pernah punya keberanian
untuk datang ke sini sendiri. Dia
hanya bicara tentang satu Dunia Lain. Tapi
siapa tahu ada lusinan?"
"Maksudmu, hutan ini mungkin hanya salah
satunya?"
"Tidak, menurutku hutan ini sama sekali
bukan dunia lain. Menurutku tempat ini hanyalah
semacam tempat di antaranya."
Polly tampak bingung.
"Tidakkah kau lihat?" tanya Digory. "Tidak,
dengar dulu. Pikirkan terowongan kita di bawah
papan-papan di rumah. Tempat itu kan
bukan ruangan di salah satu rumah. Bisa dibilang,
terowongan itu bahkan bukan benarbenar
bagian dari rumah-rumah. Tapi sekalinya
kau berada di terowongan, kau bisa berjalan
di dalamnya dan datang ke rumah mana pun
di deretan rumah kita. Mungkin saja hutan ini
juga sama, kan?—tempat yang bukanlah salah
satu dunia, tapi sekali kau menemukan tempat
ini kau bisa masuk ke dunia mana pun."
"Yah, kalaupun kau bisa—" Polly memulai,
tapi Digory melanjutkan seolah tidak mendengar
kata-katanya.
"Dan tentu saja itu menjelaskan segalanya,"
katanya. "Itulah sebabnya tempat ini begitu
56
sepi dan kita selalu merasa mengantuk. Tidak
pernah ada kejadian apa pun di sini. Seperti
di rumah. Di dalam rumah-rumahlah orangorang
berbicara, atau melakukan hal-hal, juga
tempat mereka makan. Tidak ada yang terjadi
di tempat-tempat perantara: di belakang dinding,
di atas langit-langit, atau di bawah lantai,
juga di dalam terowongan kita. Tapi ketika
kau keluar dari terowongan, kau akan mendapati
dirimu berada di rumah mana pun.
Kurasa kita bisa keluar dari tempat ini dan
menuju tempat mana pun! Kita tidak perlu
melompat ke dalam mata air yang sama dengan
yang kita lewati. Atau belum saatnya."
"Hutan di Antara Dunia-Dunia," kata Polly
menerawang. "Kedengarannya bagus juga."
"Ayo," kata Digory. "Kolam mana yang
akan kita coba?"
"Tunggu dulu," kata Polly, "Aku tidak akan
mencoba mata air baru sebelum memastikan
kita memang bisa pulang melalui mata air
yang pertama. Kita bahkan tidak yakin itu
cara yang benar."
"Benar," kata Digory sinis. "Kita akan dirangkap
Paman Andrew dan harus menyerahkan
cincin-cincin kita sebelum sempat bersenang-
senang. Tidak, terima kasih."
57
"Tidak bisakah kita sampai di setengah jalan
ke bawah mata air kita?" tanya Polly. "Hanya
untuk melihat cara ini benar-benar manjur.
Lalu begitu kita tahu itu berhasil, kita ganti
cincin dan kembali naik sebelum benar-benar
sampai di ruang kerja Mr Ketterly."
"Bisakah kita pergi separo jalan ke bawah?"
"Yah, cukup lama waktu yang kita perlukan
untuk naik, kurasa bakal memakan waktu sedikit
lama untuk kembali."
Digory agak sulit menyetujui rencana ini,
tapi akhirnya dia terpaksa setuju karena Polly
sama sekali menolak melakukan penjelajahan
ke dunia baru apa pun sebelum memastikan
dia bisa kembali ke dunia asalnya. Dia kuranglebih
sama beraninya dengan Digory dalam
menghadapi beberapa bahaya (tawon, misalnya),
tapi Polly tidaklah tertarik menemukan
hal-hal yang belum pernah didengar siapa pun.
Sedangkan Digory tipe orang yang ingin mengetahui
segalanya, dan ketika tumbuh dewasa
dia menjadi Profesor Kirke yang terkenal yang
akan muncul di buku-buku lain.
Setelah cukup lama berdebat, mereka sependapat
untuk mengenakan cincin hijau mereka
("Hijau untuk keamanan," kata Digory, "jadi
kau tidak bisa tidak mengingat cincin yang
58
mana untuk apa"), lalu mereka bergandengan
tangan dan melompat. Tapi segera ketika mereka
tampak akan kembali ke ruang kerja
Paman Andrew, atau bahkan dunia mereka
sendiri, Polly bertugas untuk berteriak, "Ganti"
dan mereka akan membuka cincin hijau lalu
memakai cincin kuning lagi. Digory ingin jadi
yang bertugas berteriak, "Ganti," tapi Polly
tidak juga mau setuju.
Mereka mengenakan cincin hijau, saling
menggamit tangan, dan sekali lagi berteriak
"Satu—Dua—Tiga—Lompat". Kali ini cara itu
manjur. Sangatlah sulit menceritakan pada
kalian bagaimana rasanya, karena segalanya
terjadi begitu cepat. Awalnya ada cahaya-cahaya
terang yang bergerak di langit hitam. Digory
selalu menganggap cahaya-cahaya itu bintangbintang
dan bersumpah melihat Planet Jupiter
cukup dekat—cukup dekat untuk melihat
bulannya. Tapi hampir sekaligus terlihat oleh
mereka barisan demi barisan atap dan cerobong
asap di atas, mereka juga bisa melihat St Paul
sehingga tahu mereka sedang melihat pemandangan
London. Tapi kau bisa melihat menembus
dinding-dinding semua rumah. Lalu mereka
bisa melihat Paman Andrew, sangat samar dan
berbayang-bayang, tapi semakin lama semakin
59
kelihatan jelas dan nyata, seolah dia kian mendekati
fokus. Tapi sebelum Paman Andrew
menjadi benar-benar nyata, Polly berteriak
"Ganti", dan mereka langsung mengganti cincin,
dunia kita pun mengabur seperti mimpi,
kemudian cahaya hijau di atas menjadi kian
terang dan terang, hingga kepala mereka keluar
dari mata air dan mereka berlari ke tepian.
Kini hutan mengelilingi mereka lagi hingga ke
atas, masih sehijau dan seterang dulu. Seluruh
proses itu hanya mengambil waktu kurang
dari satu menit.
"Nah!" kata Digory. "Sudah bisa, kan? Sekarang
mari kita bertualang. Mata air yang mana
pun boleh. Ayolah. Ayo kita coba yang satu
itu."
"Stop!" kata Polly. "Tidakkah sebaiknya kita
tandai mata air yang ini dulu?"
Mereka bertatapan dan wajah mereka berdua
memucat saat mereka menyadari hal mengerikan
yang baru saja akan Digory lakukan. Ada
begitu banyak mata air di di hutan ini, dan
semua mata air tampak serupa, begitu juga
pepohonannya. Kalau sekali saja mereka meninggalkan
mata air yang merupakan jalan
menuju dunia mereka sendiri tanpa membuat
semacam tanda, kemungkinannya seratus ban-
60
ding satu bagi mereka untuk menemukannya
lagi.
Tangan Digory gemetaran saat dia membuka
pisau lipatnya dan memotong sebongkah panjang
rumput di tepian mata air. Tanah hutan
itu (yang wangi sekali) berwarna cokelat kemerahan
gembur dan tampak kontras di antara
hijau rerumputan. "Untung salah satu di antara
kita berakal sehat," kata Polly.
"Yah, kau kan tidak perlu menyombongkan
diri hanya gara-gara masalah ini," kata Digory.
"Ayolah, aku ingin melihat ada apa di balik
mata air-mata air yang lain." Polly membalas
ucapan Digory dengan cukup pedas, Digory
pun mengucapkan sesuatu yang lebih ketus
lagi sebagai balasannya. Pertengkaran itu berlangsung
selama beberapa menit, tapi akan
membosankan bila ditulis semuanya. Marilah
kita langsung menuju saat ketika mereka berdiri
dengan jantung berdebar-debar dan wajah agak
ketakutan di pinggir mata air tak dikenal dengan
cincin-cincin kuning mereka. Keduanya
bergandengan dan sekali lagi berkata "Satu—
Dua—Tiga—Lompat!"
Byuurr! Sekali lagi cara ini tidak berhasil.
Mata air ini ternyata juga hanyalah sedalam
kubangan air. Bukannya mencapai dunia lain,
61
mereka hanya mendapati kaki mereka basah
dan mengotori tungkai kaki mereka untuk kedua
kalinya pagi itu (kalau memang saat itu
pagi: waktu tampak selalu sama di Hutan di
Antara Dunia-Dunia).
"Sial!" seru Digory. "Apa lagi yang salah
sekarang? Kita sudah mengenakan cincin kuning
kita kok. Dia bilang kuning untuk perjalanan
pergi."
Nah, sekarang diketahui ternyata Paman
Andrew, yang tidak tahu apa-apa tentang Hutan
di Antara Dunia-Dunia, punya perkiraan
yang salah tentang kegunaan cincin-cincin itu.
Cincin yang kuning bukanlah cincin "pergi"
dan cincin yang hijau bukanlah cincin "pulang",
setidaknya bukan seperti yang dipikirkannya.
Bahan-bahan yang membuat kedua
cincin itu berasal dari hutan itu. Bahan-bahan
dalam cincin kuning memiliki kekuatan untuk
menarikmu ke hutan, bahan-bahan yang ingin
kembali ke tempatnya semula, tempat di antara.
Tapi bahan dalam cincin hijau adalah bahan
yang berusaha keluar dari tempatnya semula:
jadi cincin hijau akan membawamu keluar
dari hutan ke sebuah dunia. Paman Andrew,
untuk kauketahui, sedang bereksperimen dengan
benda-benda yang sebenarnya tidak terlalu dia
62
mengerti, sebagian besar penyihir memang
begitu. Tentu saja Digory juga tidak terlalu
menyadari kenyataan ini, setidaknya tidak hingga
nanti. Tapi ketika mereka telah membicarakannya,
mereka memutuskan mencoba cincin
hijau mereka ke mata air baru hanya untuk
melihat apa yang akan terjadi.
"Aku mau kalau kau juga mau," kata Polly.
Tapi sebenarnya dia mengatakan ini karena di
hatinya yang paling dalam, dia kini merasa
yakin kedua cincin itu tidak akan berfungsi di
mata air baru, jadi tidak ada yang perlu lebih
ditakutinya selain cipratan air lagi. Aku tidak
terlalu yakin Digory punya perasaan yang sama.
Bagaimanapun, ketika mereka berdua telah memakai
cincin hijau, kembali ke tepian mata
air, dan bergandengan, mereka kini jauh lebih
ceria dan tidak muram daripada pada kali
pertama.
"Satu—Dua—Tiga—Lompat!" kata Digory.
Dan mereka pun melompat.
63

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar